Deru Gergaji di Tengah Hutan: Suara yang Mengusik Warga Bandealit

 Bandealit, Jember — Di antara rimbun pepohonan dan semilir angin pegunungan yang menyapa Desa Bandealit, ada suara yang tak seharusnya hadir: raungan gergaji mesin dari dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Suara itu memecah sunyi, membawa gelisah bagi warga yang hidup berdampingan dengan hutan.

Siti Aminah, warga RT 01 RW 11 Bandealit, menjadi salah satu saksi yang menyimpan ingatan tentang masa ketika pembalakan liar marak terjadi. Dengan nada tenang namun sarat makna, ia menuturkan,

“Iya mas, dulu ada penebangan liar yang terjadi dan jalur naik turunnya hanya satu ini, di depan rumah saya,” ujar Ibu Siti Aminah sambil menunjuk jalur kecil yang tampak biasa namun menyimpan cerita panjang tentang perusakan alam.

Jalur yang dimaksud, dulunya menjadi akses utama bagi pelaku pembalakan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Truk kecil dan sepeda motor roda tiga kerap melintas, meninggalkan jejak ban bercampur tanah dan serpihan kayu.

Memori Panjang di Balik Tebangan, penebangan liar bukan isu baru bagi warga Bandealit. Aktivitas ini mulai terdeteksi sejak awal 2000-an, bahkan sempat memuncak sekitar tahun 2003. Beberapa warga menyebut bahwa suara gergaji menjadi hal yang akrab di telinga, datang dari balik lebatnya hutan dan kerap terdengar saat pagi hingga sore.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya mengisahkan, “Dulu awal-awal mereka penebangan di dalam kawasan TN. Tapi lama-lama merambah juga ke luar kawasan, ada yang sampai keluar tiga kilometer dari batas taman nasional.”

Beberapa dokumentasi dari pihak TN juga menunjukkan bagaimana pohon-pohon besar ditebang dan dibawa keluar kawasan. Bekas irisan gergaji, jalur seret batang kayu, dan pohon tumbang menjadi bukti bisu dari kerusakan yang terjadi secara sistematis.

Mapala Menyuarakan Kekhawatiran, mahasiswa pencinta alam yang kerap melakukan survei dan ekspedisi ke kawasan TNMB pun turut menyuarakan keresahan.

“Kami beberapa kali mendokumentasikan sisa-sisa tebangan yang jelas bukan bagian dari aktivitas resmi atau penelitian. Itu jelas-jelas pembalakan liar,” ujar salah satu anggota Mapala kampus Jember.

Mereka mencatat bahwa jalur ilegal yang digunakan sering kali berada di lereng yang sulit dijangkau dan berdekatan dengan jalur air—menandakan bahwa para pelaku telah memahami geografi kawasan dan mengeksploitasinya dengan cermat.

Langkah Tegas dari Taman Nasional, pihak pengelola Taman Nasional Meru Betiri tidak tinggal diam. Melalui tim jurnalistik Swapeka, salah satu pengawas TN mengungkapkan bahwa mereka telah beberapa kali melibatkan aparat untuk menghentikan kegiatan ilegal tersebut.

“Dulu mas, kami pernah memanggil salah satu aparat, tapi kenapa masih ada yang gundul. Akhirnya kami minta aparat lain yang turun, dan diturunkan 3 brigif yang sampai sekarang masih terjaga di kawasan ini,” jelas sang pengawas.

Hadirnya pasukan brigif menjadi tonggak penting dalam pengamanan kawasan. Selain itu, jalur yang dahulu digunakan pelaku pun kini ditutup, dan patroli rutin dilakukan guna mencegah aktivitas serupa terulang kembali.

Harapan dan Kegelisahan Warga, meski upaya telah dilakukan, warga seperti Ibu Siti tetap menyimpan kegelisahan. Baginya, menjaga hutan bukan hanya tanggung jawab negara, tapi juga kewajiban moral bersama.

“Kalau hutannya habis, bukan cuma binatang yang hilang, tapi kehidupan kami juga ikut susah. Air bisa kering, longsor bisa datang. Hutan ini napas kami,” ucapnya lirih.

Warga berharap kesadaran semua pihak, baik pemerintah, aparat, maupun masyarakat luas, bisa terbangun dan bersinergi. Mereka ingin kawasan yang dulu sempat porak-poranda bisa kembali pulih dan menjadi ruang hidup yang lestari bagi semua makhluk.

Ketika Gergaji Jadi Simbol Krisis, Bandealit bukan hanya soal pohon yang tumbang atau suara mesin yang merobek keheningan. Ini adalah cermin krisis moral dan kebijakan. Ketika jalur di depan rumah Ibu Siti berubah dari jalan kampung menjadi rute ilegal para pembalak, kita tahu bahwa garis antara peradaban dan kerusakan sangatlah tipis.

Kini, pilihan ada di tangan kita bersama. Apakah akan membiarkan gergaji terus bersuara, atau memilih untuk menanam kesadaran baru: bahwa menjaga hutan adalah menjaga hidup itu sendiri.

Komentar