Postingan

DAMPAK INDUSTRIALISASI TERHADAP LINGKUNGAN DAN SOSIAL : STUDI KASUS PT SEMEN IMASCO PUGER, JEMBER 2020-2025

                                    Abstrak Penelitian ini membahas dampak industrialisasi terhadap lingkungan dan sosial masyarakat di sekitar PT Semen Imasco Asiatic, yang beroperasi di Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur sejak tahun 2020. Pabrik ini merupakan bagian dari Perusahaan Hongsi Holding Group asal China dan memiliki kapasitas produksi sebesar 3 juta ton semen per tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah gabungan antara pendekatan sejarah, kualitatif, studi literatur, dan analisis spasial berbasis citra satelit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran industri semen telah berdampak terhadap lingkungan dan sosial sekitar. Dari sisi lingkungan, ditemukan dampak berupa pencemaran udara, pengalihan saluran irigasi, dan rusaknya infrasruktur jalan. Sementara dari sisi sosial, masyarakat mengalami gangguan kesehatan akibat debu kendaraan industri, keterbatasan a...

Pelarian ke Puncak Sunyi

Rimba kota menyesakkan dada, Tiada lagi tempat tuk sembunyi. Bayangmu membelenggu jiwa, Hingga kutemukan puncak yang sunyi. Ransel terisi, beban di bahu, Langkah menjejak lereng berliku. Setiap tanjakan, setiap batu, Adalah upaya melupakan dirimu. Udara dingin menusuk kalbu, Membersihkan duka yang mengendap. Pohon pinus berdiri membisu, Seolah mengerti hati yang meratap. Jauh di atas, kabut menyelimuti, Menyembunyikan perih yang terpendam. Di puncak sunyi, aku bersamamu, Dengan alam yang tak pernah karam. Bukan lari dari kenyataan, ini upaya, Menemukan kembali kekuatan jiwa. Gunung perkasa, beri aku daya, Untuk melangkah, tanpa dirimu di sana. Oleh. Ahmad Zain Baihaqi XL.24.33.380 - SWP

SENDIRIAN

Tubuh menggigil, gigi gemertakan Ulu hati ngilu bak di remas tanpa perasaan Keringat dingin mengucur deras di pelipis Kepala berdenyut hebat tak tertahan Pandangan buram Keseimbangan tak terkendali Gontai menyusuri jalan sempit, bertahan sendirian Mereka tak melihatku lagi, terseok seok sendiri  Berjalan tanpa arah Apa ini artinya aku kesepian? Tentu saja tidak. Aku tidak sendiri, aku masih punya jiwa lalah teman sejatiku yang  benar adanya

Deru Gergaji di Tengah Hutan: Suara yang Mengusik Warga Bandealit

  Bandealit, Jember — Di antara rimbun pepohonan dan semilir angin pegunungan yang menyapa Desa Bandealit, ada suara yang tak seharusnya hadir: raungan gergaji mesin dari dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Suara itu memecah sunyi, membawa gelisah bagi warga yang hidup berdampingan dengan hutan. Siti Aminah, warga RT 01 RW 11 Bandealit, menjadi salah satu saksi yang menyimpan ingatan tentang masa ketika pembalakan liar marak terjadi. Dengan nada tenang namun sarat makna, ia menuturkan, “Iya mas, dulu ada penebangan liar yang terjadi dan jalur naik turunnya hanya satu ini, di depan rumah saya,” ujar Ibu Siti Aminah sambil menunjuk jalur kecil yang tampak biasa namun menyimpan cerita panjang tentang perusakan alam. Jalur yang dimaksud, dulunya menjadi akses utama bagi pelaku pembalakan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Truk kecil dan sepeda motor roda tiga kerap melintas, meninggalkan jejak ban bercampur tanah dan serpihan kayu. Memori Panjang di Balik Tebangan , pen...

Desa Lodadi: Benarkah Kesunyian Tujuh Kepala Keluarga Membuatnya Terpencil?

  Di balik rimbunnya pohon karet di Merubetiri, terletak Desa Lodadi yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Meskipun jumlahnya sedikit, kehidupan mereka tetap dekat dengan alam. Setiap pagi, kicauan burung dan hembusan angin di dedaunan karet mengiringi aktivitas harian. Saat senja, cahaya matahari menembus ranting pohon, menciptakan suasana yang tenang. Pak Salman, warga Desa Kalicawang yang letaknya tak jauh sebelum Lodadi, menceritakan perkembangan desa ini. “Dulu, waktu saya kecil, kepala keluarga di sini belum mencapai tujuh. Setelah beberapa orang lanjut usia meninggal, jumlahnya sempat berkurang. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlahnya bertambah hingga seperti sekarang,” ujarnya sambil tersenyum. Walaupun hanya tujuh keluarga, Desa Lodadi tidak pernah sepi. Warga dari dusun sekitar sering singgah untuk mengobrol di bawah pohon karet. Salah satu keluarga Pak Salman bekerja sebagai pekebun karet dan pencari lebah untuk mengambil dan menjual madu Merubetiri. Berbeda ...

Menyapa Masyarakat Bandealit : Kegigihan Warga Meski Akses Transportasi Yang Belum Merata

  Kawasan Taman Nasional yang menjadi tempat keanekaragaman flora dan fauna, terkadang menjadi tempat beberapa masyarakat untuk mendiami dan tinggal di kawasan tersebut. Pada kawasan Taman Nasional Meru Betiri contohnya, saya memiliki kesempatan untuk mendatangi dan menyapa warga dusun Bandealit yang berada di desa Andongrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember. Daerah yang berada di ujung selatan kabupaten Jember dan berbatasan langsung dengan pantai dan kabupaten Banyuwangi Dusun bandealit yang terletak sangat jauh dari area perkotaan dan mendiami daerah terpencil, membuat akses seperti pendidikan, listrik, dan pembangunan jalan masih belum merata. Meskipun pembangunan jalan pernah terjadi pada tahun 2024 kemarin, namun pembangunannya tidak merata dan masih ada spot – spot yang perlu di perhatikan dan harus menjadi prioritas. Ketika saya mengunjungi daerah Lodadi, saya harus menyebrangi sungai yang cukup besar untuk melintasinya. Kebetulan ketika saya menyebrangi sungai, air sungai masi...

Madu Hutan Lodadi: Manis yang Diperjuangkan Hingga ke Puncak Pohon

  Di sebuah sudut sunyi di selatan Jawa Timur, terletak sebuah desa kecil bernama Lodadi. Desa ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga yang hidup berdampingan dengan alam, tepat di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Akses ke desa ini tidak mudah. Untuk mencapainya, seseorang harus menempuh jalan tanah, melewati perbukitan, dan menembus rindangnya pepohonan. Namun di balik keterpencilannya, Lodadi menyimpan harta karun alam yang tidak ternilai: madu hutan asli. Madu bukan sekadar bahan konsumsi bagi warga Lodadi. Ia adalah bagian dari hidup. Sumber penghidupan, warisan budaya, obat alami, dan simbol hubungan manusia dengan alam. “Kalau musim bunga bagus, madunya bisa banyak. Tapi itu tergantung lebahnya juga. Di sini lebahnya beda-beda, tergantung pohon tempat dia bersarang,” ujar Pak Yanto, seorang pencari madu kawakan dari desa tersebut. Sudah sejak tahun 90-an ia naik-turun hutan demi mengumpulkan tetes-tetes manis dari sarang lebah liar. Meski usia menua, semangatnya ...