Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Deru Gergaji di Tengah Hutan: Suara yang Mengusik Warga Bandealit

  Bandealit, Jember — Di antara rimbun pepohonan dan semilir angin pegunungan yang menyapa Desa Bandealit, ada suara yang tak seharusnya hadir: raungan gergaji mesin dari dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB). Suara itu memecah sunyi, membawa gelisah bagi warga yang hidup berdampingan dengan hutan. Siti Aminah, warga RT 01 RW 11 Bandealit, menjadi salah satu saksi yang menyimpan ingatan tentang masa ketika pembalakan liar marak terjadi. Dengan nada tenang namun sarat makna, ia menuturkan, “Iya mas, dulu ada penebangan liar yang terjadi dan jalur naik turunnya hanya satu ini, di depan rumah saya,” ujar Ibu Siti Aminah sambil menunjuk jalur kecil yang tampak biasa namun menyimpan cerita panjang tentang perusakan alam. Jalur yang dimaksud, dulunya menjadi akses utama bagi pelaku pembalakan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Truk kecil dan sepeda motor roda tiga kerap melintas, meninggalkan jejak ban bercampur tanah dan serpihan kayu. Memori Panjang di Balik Tebangan , pen...

Desa Lodadi: Benarkah Kesunyian Tujuh Kepala Keluarga Membuatnya Terpencil?

  Di balik rimbunnya pohon karet di Merubetiri, terletak Desa Lodadi yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Meskipun jumlahnya sedikit, kehidupan mereka tetap dekat dengan alam. Setiap pagi, kicauan burung dan hembusan angin di dedaunan karet mengiringi aktivitas harian. Saat senja, cahaya matahari menembus ranting pohon, menciptakan suasana yang tenang. Pak Salman, warga Desa Kalicawang yang letaknya tak jauh sebelum Lodadi, menceritakan perkembangan desa ini. “Dulu, waktu saya kecil, kepala keluarga di sini belum mencapai tujuh. Setelah beberapa orang lanjut usia meninggal, jumlahnya sempat berkurang. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlahnya bertambah hingga seperti sekarang,” ujarnya sambil tersenyum. Walaupun hanya tujuh keluarga, Desa Lodadi tidak pernah sepi. Warga dari dusun sekitar sering singgah untuk mengobrol di bawah pohon karet. Salah satu keluarga Pak Salman bekerja sebagai pekebun karet dan pencari lebah untuk mengambil dan menjual madu Merubetiri. Berbeda ...

Menyapa Masyarakat Bandealit : Kegigihan Warga Meski Akses Transportasi Yang Belum Merata

  Kawasan Taman Nasional yang menjadi tempat keanekaragaman flora dan fauna, terkadang menjadi tempat beberapa masyarakat untuk mendiami dan tinggal di kawasan tersebut. Pada kawasan Taman Nasional Meru Betiri contohnya, saya memiliki kesempatan untuk mendatangi dan menyapa warga dusun Bandealit yang berada di desa Andongrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember. Daerah yang berada di ujung selatan kabupaten Jember dan berbatasan langsung dengan pantai dan kabupaten Banyuwangi Dusun bandealit yang terletak sangat jauh dari area perkotaan dan mendiami daerah terpencil, membuat akses seperti pendidikan, listrik, dan pembangunan jalan masih belum merata. Meskipun pembangunan jalan pernah terjadi pada tahun 2024 kemarin, namun pembangunannya tidak merata dan masih ada spot – spot yang perlu di perhatikan dan harus menjadi prioritas. Ketika saya mengunjungi daerah Lodadi, saya harus menyebrangi sungai yang cukup besar untuk melintasinya. Kebetulan ketika saya menyebrangi sungai, air sungai masi...

Madu Hutan Lodadi: Manis yang Diperjuangkan Hingga ke Puncak Pohon

  Di sebuah sudut sunyi di selatan Jawa Timur, terletak sebuah desa kecil bernama Lodadi. Desa ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga yang hidup berdampingan dengan alam, tepat di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Akses ke desa ini tidak mudah. Untuk mencapainya, seseorang harus menempuh jalan tanah, melewati perbukitan, dan menembus rindangnya pepohonan. Namun di balik keterpencilannya, Lodadi menyimpan harta karun alam yang tidak ternilai: madu hutan asli. Madu bukan sekadar bahan konsumsi bagi warga Lodadi. Ia adalah bagian dari hidup. Sumber penghidupan, warisan budaya, obat alami, dan simbol hubungan manusia dengan alam. “Kalau musim bunga bagus, madunya bisa banyak. Tapi itu tergantung lebahnya juga. Di sini lebahnya beda-beda, tergantung pohon tempat dia bersarang,” ujar Pak Yanto, seorang pencari madu kawakan dari desa tersebut. Sudah sejak tahun 90-an ia naik-turun hutan demi mengumpulkan tetes-tetes manis dari sarang lebah liar. Meski usia menua, semangatnya ...

Catatan Rimbun tenang yang tak berkesudahan...

  Hari pertama Pagi itu, suasana di lapangan FIB begitu meriah. Kami, tim dari berbagai divisi, berkumpul dengan semangat tinggi, siap menjalani perjalanan yang akan mengubah hidup—atau setidaknya memberikan cerita untuk dibanggakan. Setelah mengisi perut dengan makanan seadanya yang disediakan oleh panitia (yang, entah kenapa, selalu terasa lebih nikmat karena perut sudah keroncongan), truk yang kami tunggangi sudah siap membawa kami menuju Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke sana, jadi tak ada waktu untuk santai. Aku memilih duduk di depan, menemani Pak Sopir yang sepertinya sudah sangat ahli dalam mengarungi jalanan yang lebih banyak berliku daripada cerita hidupku. Di Cawang, kami berhenti sejenak di rumah warga untuk berkumpul. Di sana, beberapa tim yang membawa kendaraan pribadi mulai muncul. Sambil menunggu, suasana di sekitar rumah warga itu sangat tenang, hampir terlalu tenang—sampai-sampai aku merasa seperti sedang berada di dunia yang...

Perjalanan Selama Pendidikan Lanjutan SWAPENKA XXXIII Di Dusun Bandealit

  Hari sabtu 10-Mei-2025 bersama pagi yang cerah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, saya bersama teman – teman seorganisasi mapala SWAPENKA mengikuti karantina dari semalam. Karantina yang kami lakukan merupakan rangkaian kegiatan Pendidikan Lanjutan (DIKJUT) SWAPENKA XXXIII. Pendidikan Lanjutan adalah kegiatan wajib untuk anggota SWAPENKA guna memperdalam ilmu kepencintaalaman dan pendivisian keilmuan. Pagi ini saya dan peserta yang lain melakukan persiapan upacara pemberangkatan yang dilakukan di lapangan futsal Fakultas Ilmu Budaya pada jam 7.00 WIB. Barang – barang yang sudah saya persiapkan selama tadi malam saya cek kembali seperti alat tulis, buku, baju ganti, logistik, dan lain-lain. Setelah mengemas barang – barang, sekitar jam 7.45 WIB upacara pemberangkatan kami mulai. Suasana upacara cukup tidak kondusif dikarnakan tidak ada latihan upacara terlebih dahulu, mungkin kekurangan ini akan menjadi bahan evaluasi kami bersama. Setelah upacara selesai, kami menunggu ...

Dari Hutan ke Hati: Perjalanan Penuh Cerita dan Pelajaran

   Perjalanan ke Bandealit dan Kunjungan ke Desa Lohdadi Perjalanan ke Bandealit kali ini terasa lebih mudah daripada tahun lalu. Kami berangkat pagi dengan semangat. Jalan aspal yang dahulu berbatu kini halus dan nyaman dilalui. Kicau burung dan angin segar membuat suasana lebih menyenangkan. Di Desa Andonrejo, kami singgah di rumah Pak Hafid untuk menunggu teman-teman yang bersepeda. Sambil menunggu, kami minum air kelapa dan ngobrol santai. Tak lama kemudian mereka tiba, lalu menitipkan sepeda di teras rumah Pak Hafid. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Airnya jernih dan dingin. Di kiri dan kanan jalan, pohon karet tinggi menaungi kami. Medan tanah becek membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Di tengah jalan, aku melihat sekelompok monyet turun dari pohon, pemandangan itu membuatku terkagum. Sekitar sore, kami sampai di lapangan kecil untuk mendirikan tenda. Kami bersama-sama memasang tiang dan menegakkan kain tenda hingga rapi. Tenda...