MENAKLUKKAN PUNCAK: CATATAN PERJALANAN DI KETINGGIAN
Jipat XLI-24.33.382-SWP
Jumat 17 Januari 2025
Aku, Trabas, Esem dan Akar melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Gunung Lawu merupakan gunung yang berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur meliputi Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Magetan. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut. Ada enam jalur yang dapat dipilih untuk melakukan pendakian ke Gunung Lawu yaitu via Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, Candi Cetho, Babar, Jogorogo, dan Tambak. Kami memilih melewati jalur babar karena rencana awalnya memilih untuk melewati jalur Candi Cetho, namun ada beberapa kendala dalam perjalanan yang mengharuskan mengubah rencana awal.
Pukul 22.39 WIB Aku dan ketiga temanku berangkat dari rumahku yang berada di Kabupaten Madiun menuju basecamp yang berada di Kabupaten Karanganyar. Kami naik kendaraan pribadi berupa dua sepeda motor melewati Kabupaten Magetan, Kabupaten Ngawi lalu menuju desa Anggramanis yang terletak di Kabupaten Karanganyar tempat basecamp via jalur Babar. Perjalanan menuju basecamp terasa sunyi hanya terdengar suara hembusan angin di sepanjang jalan dan obrolan singkat di atas motor.
Sekitar pukul 00.47 WIB kesialan pun mulai berdatangan. Sepeda motor yang Aku kendarai dengan Trabas tidak mampu melewati tanjakan di sepanjang jalan. Aku pun memutuskan turun dan Trabas berusaha melewati tanjakan dengan tas carrier yang setia menemani. Terlihat motor yang dikendari Trabas semakin menjauh, aku pun berdiam di tepi jalan yang sunyi ditemani sapaan angin yang menyentuh kulitku dengan perasaan waswas ditambah penerangan yang terbatas berharap segera ada yang menyusul. Tak selang berapa menit nampak sorot cahaya motor yang menghampiriku dan itu sepeda motor yang dikendarai oleh Akar. Akar dan Esem memang berjalan mendahului sepeda motor yang Aku kendarai dengan Trabas.
Kesialan terus berlanjut, mesin motor yang dikendarai Akar dan Esem meyebarkan bau tak sedap yang menyengat, bensin pun menunjukkan hanya tersisa satu kotak. Akhirnya kami memutuskan untuk berhenti sejenak untuk sekadar mendinginkan mesin. Selang berapa menit melanjutkan perjalanan hingga berhenti di tikungan yang berada dekat Mushola. Terlihat citylight dari kejauhan sekaligus menjadi pemandangan di sela kelelahan yang menghampiriku, mata yang ingin menutup seketika terbuka lebar.
Selang berapa menit merehatkan tubuh, Trabas dan Akar memutuskan untuk membawa barang menuju basecamp terlebih dahulu sementara Aku dan Esem menunggu mereka kembali untuk menyusul. Aku dan Esem duduk dipinggir jalan ditemani suara daun yang bergesakan rasa jenuh pun mulai menghampiri. Akhirnya Aku dan Esem berjalan mengikuti jejak motor yang dikendarai oleh Trabas dan Akar hingga berhenti di sebuah gardu kecil. Selang berapa menit Trabas dan Akar datang dengan sorot lampu motor, tanpa membawa barang, wajah mereka pun sedikit muram. Ternyata mereka menurunkan barang di basecamp jalur Babar dan mereka juga mengatakan bahwa pendakian akan dilakukan melalui jalur Babar karena banyak pertimbangan salah satunya sepeda motor yang tidak memungkinkan dan kondisi yang sudah larut malam. Dengan perasaan sedikit tekejut Aku pun berharap mereka hanya bercanda namun memang benar dan kami pun menyepakati untuk melakukan pendakian lewat jalur Babar.
Pukul 02.30 WIB kami tiba di basecamp jalur Babar tepatnya di basecamp Pak Jayadi. Sesampainya di basecamp, rasa penasaranku mulai bergejolak dengan jalur Babar yang memang jarang dilewati oleh pendaki-pendaki. Akhirnya Aku dan Esem mencari tahu melalui sosial media dan cukup mengobati rasa penasaranku. Kami pun mulai beristirahat untuk persiapan pendakian keesokan harinya.
Sabtu 18 Januari 2025
Setelah istirahat, sekitar pukul 08.00 WIB kami bangun dan mulai melakukan registrasi ke pihak basecamp. Setiap rombongan diwajibkan mengisi formulir berisi nama lengkap, alamat, dan nomor telepon yang dapat dihubungi. Setiap rombongan juga harus meninggalkan satu KTP. Selain mengisi formulir, ketika registrasi dikenakan tarif sebesar Rp. 25.000/orang dan jika menggunakan jasa ojek untuk menuju pintu pendakian dikenakan tarif Rp.25000/orang. Kami pun memilih menggunakan jasa ojek untuk menuju pintu pendakian. Dengan demikian total yang harus dibayarkan sebesar Rp. 50.000/orang. Tidak hanya melakukan registrasi, kami juga diberikan briefing oleh pihak basecamp. Ada lima pos yang akan dilalui dan pada pos 3 terdapat mata air. Setelah melakukan registrasi, Aku pun tak lupa untuk mengisi perut dengan sesuap roti untuk membungkam sejenak lambungku. Dengan kesadaran penuh, kami memutuskan hanya membawa beberapa botol yang berisi air dan sisanya membawa botol kosong untuk diisi air ketika tiba di pos 3.
Setelah melakukan persiapan, kami memulai perjalanan menuju pintu pendakian menggunakan jasa ojek. Pemandangan yang terlihat ketika perjalanan menuju pintu gerbang pendakian adalah pemukiman yang ada di lereng gunung dengan hamparan ladang yang menyejukkan mata. Namun tidak dengan jalannya yang penuh dengan batuan yang tentu menggoyangkan carrier di pundakku.
Sekitar pukul 08.58 WIB kami tiba di depan pintu gerbang pendakian, mata ku tertuju pada sebuah gapura yang menyerupai arah mata angin yang cukup besar. Sebelum perjalanan dilanjutkan, tak lupa kami pun menyatukan tangan dan berdoa untuk keselamatan dan kemudahan selama pendakian. Kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1 dengan menyusuri jalan setapak. Vegetasi pun cukup rapat dengan pepohonan yang berjejer rapi di kiri kanan sepanjang perjalanan sekaligus menjadi salam selamat datang. Cuaca pun terlihat cukup cerah. Suara kicauan burung pun ikut mengiringi langkah kaki.
Pukul 09.55 WIB, kami tiba di pos 1 dan memutuskan untuk memasak makanan sekaligus menjadi menu sarapan. Aroma khas mie instan menyerbak memanggil untuk segera dilahap, perut pun ikut bergejolak ingin didengar. Kami pun makan mie instan dengan sebungkus nasi yang diberikan oleh pendaki lain sewaktu beristirahat sejenak di pos 1. Sebungkus nasi dengan mie instan terasa begitu nikmat dimakan bersama di bawah rimbun pepohonan yang menjulang tinggi.
Setelah merasa cukup mengisi energi, kami melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Jalur menuju pos 2 mulai menanjak dan berkelok. Langkah demi langkah semakin melambat, kabut mulai menyelimuti pemandangan dan rintikan hujan mulai membasahi. Kami pun berhenti sejenak untuk mengenakan jas hujan. Selang berapa menit tibalah di pos 2 pukul 11.29 WIB. Aku duduk di atas tumpukan ranting pohon, menyenderkan tas carrierku sembari mengatur helaian nafas yang mulai tersengal-sengal. Tak berhenti lama, kami akhirnya melanjutkan perjalanan menuju pos 3.
Pemandangan kiri kanan dipenuhi pepohonan salah satunya pohon cemara . Medan menuju pos 3 cukup menanjak dan lumayan menguras tenaga, ditambah kondisi hujan yang semakin deras setia menemani langkah kaki. Angin pun bertiup kencang membuat suasana semakin dingin. Tak hanya itu, stok air yang dibawa pun menipis membuat tenggorokan berteriak minta dibasahi. Telihat tetesan air hujan yang masih tertinggal di daun pohon cemara, tanpa pikir panjang, Aku menjulurkan jari telunjukku untuk mengapai tetesan air hujan demi membasahi tenggorokan. Kami terus berjalan hingga akhirnya hujan reda dan langit mulai menampakkan kecerahannya. Kondisi medan cukup melelahkan dan beberapa kali langkah kami terhenti hanya untuk sekadar menghela nafas.
Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk membagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama Aku dan Trabas sementara kelompok kedua Akar dan Esem. Setelah dibagi, Aku dan Trabas melanjutkan perjalanan lebih dahulu. Ritme langkah kaki ku mulai melambat dihadapan tanjakan yang tiada ujungnya. Sekitar pukul 13.40 WIB Aku dan Trabas tiba di Pos 3. Aku melihat mata air yang mengalir deras penuh kejernihan. Aku dan Trabas langsung mengambil botol kosong dan mengisinya air. Sembari menunggu Akar dan Esem, Aku dan Trabas beristirahat dengan menikmati air yang didambakan selama perjalanan. Tak lama, sekitar pukul 14.01 Akar dan Esem tiba. Kami memilih untuk beristirahat dengan obrolan-obrolan manis.
Setelah istirahat yang cukup lama, pukul 14.30 tim melanjutkan perjalanan menuju pos 4. Jalur menuju pos 4 semakin menantang dengan medan yang semakin menanjak. Sepanjang perjalanan vegetasi mulai terbuka dan hujan pun kembali turun. Langkah kaki kembali melambat. Dua tiga langkah kami berhentisembari melihat pemandangan yang mengobati rasa lelah. Kami akhirnya tiba di pos 4 pukul 16.30 WIB. Terlihat seperti gubuk dengan atap yang roboh. Kami istirahat sejenak sembari mengisi perut yang sudah didiamkan. Setelah istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju pos 5. Jalur yang dilewati semakin berat dengan medan yang berkelok, curam, dan semakin menanjak. Kejutan tak hanya itu, perjalanan menuju pos 5 ini kami diberi kejutan untuk melewati punggungan pegunungan yang cukup panjang. Langit mulai gelap dan kami masih melakukan tracking yang cukup melatih mental. Rasa lelah terbayar ketika disuguhankan dengan pemandangan lampu dibawah yang menakjubkan.
Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, sekitar pukul 19.00 WIB kami akhirnya tiba di Lapangan Kotak yang berada tidak jauh dari pos 5. Beberapa tenda berjejer dan kami mendirikan tenda di tempat yang sama. Setelah tenda terpasang, kami memasak untuk makan malam. Kami pun tergoda dengan aroma bakso yang sontak menggoyangkan lambung. Akhirnya kami melahap dengan gurauan di dalam tenda dilanjutkan dengan istirahat. Malam itu, aku hanya mendengar suara desiran angin terkadang muncul suara langkah kaki dari pendaki yang melewati jalan di depan tenda. Angin semakin kencang membuat suasana menjadi begitu dingin yang mengganggu tidurku.
Menu makan malam
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Minggu, 19 Januari 2025
Pukul 07.00 WIB Aku bangun terlebih dulu kemudian disusul Trabas. Aku memasak lauk dan Trabas memasak nasi. Tak lama kemudian Akar dan Esem bangun dan kami menyantap makanan. Setelah sarapan dan melakukan persiapan, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dengan membawa satu hydropack dan satu daypack berisi air dan beberapa camilan.
Sekitar pukul 08.10 WIB perjalanan menuju puncak dimulai. Selang berjalan beberapa menit kami tiba di Bulak Peperangan. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gupakan Menjangan, jalur yang dilalui cukup menanjak. Setibanya di Gupakan Menjangan, kami berjalan beberapa langkah sampai akhirnya melihat sabana yang luas dan menakjubkan. Seketika rasa lelahku terbayar ketika melihat pemandangan yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Tak lupa sapaan yang sealu terdengar ketika berpapasan dengan rombongan pendaki lain.
Setelah menikmati keindahan di sabana, kami melanjutkan perjalanan menuju Pasar Dieng. Perjalanan ini cukup memakan waktu meskipun tidak terlalu banyak jalur yang menanjak dan lebih didominasi dengan jalur yang cukup landai. Pemandangan yang disuguhkan di Pasar Dieng berupa bebatuan yang bertumpuk seperti gundukan.
Setelah melewati Pasar Dieng, kami menuju Hargo Dalem, jalur yang dilalui tidak terlalu menguras energi. Mataku terpanah ketika melihat bunga tumbuh bermekaran dengan cantik di semak-semak sepanjang perjalanan. Sekitar pukul 10.03 kami tiba di Hargo Dalem, pemandangan di Hargo Dalem sangat menakjubkan dengan suguhan lautan awan. Dijumpai beberapa warung dan toilet yang berjejer. Kami beristirahat sejenak di sebuah bangku yang menghadap ke pemandangan lautan awan.
Lagi dan lagi rasa lelahku selama perjalanan terbayarkan dengan pemandangan yang menghipnotisku. Suasana langit cerah diselimuti lautan awan menjadi keindahan yang tak terlupakan. Setelah beristirahat, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Hargo Dumilah atau puncak Gunung Lawu. Jalur yang dilewati memiliki medan yang cukup menanjak dan didominasi bebatuan. Perjalanan menuju puncak cukup menguras tenaga dan kami pun bergerak sedikit melambat. Puncak pun mulai terlihat dari kejauhan, aku pun memaksakan diri untuk terus berjalan meskipun beberapa langkah terhenti untuk menghela nafas lebih panjang.
Sekitar pukul 10.42 WIB kami berhasil mencapai puncak Gunung Lawu. Setibanya di puncak, banyak pendaki yang sedang mengabadikan momen dengan berfoto. Aku pun terpungkau dengan pemandangan yang ada di puncak. Langit begitu cerah dengan lautan awan yang terlihat jelas oleh sepasang mata. Ditemani desiran angin yang kencang, Aku menikmati lukisan alam sekaligus menyadarkanku betapa kecilnya diriku ketika berada di alam. Semua rasa lelah sungguh terbayarkan ketika menyaksikan keindahannya. Tak lupa, kami juga mengabadikan momen dengan berswafoto.
Foto saat di puncak
(Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Tidak hanya berfoto, kami juga memunguti sampah yang ada di sekitar Puncak. Betapa mengejutkan ketika melihat banyak sampah yang berserakan. Selain itu, ada rombongan yang kebih dulu memunguti sampah yang ada. Mataku tertuju pada salah satu orang yang ada di rombongan itu yang mengenakan kaos berwarna bertuliskan “Gunung Bukan Tempat Sampah”. Ternyata masih banyak orang yanng peduli disamping banyak pula orang yang memilih untuk tidak peduli
Setelah memunguti sampah dan memasukkan ke dalam trashbag, sekitar pukul 11.40 tim memutuskan untuk turun dan mengunjungi warung Mbok Yem yang terkenal dengan warung di atas ketinggian. Kami pun tiba di warung Mbok Yem sekitar pukul 12.05 WIB dan langsung memesan empat nasi pecel dan empat teh hangat. Sembari menunggu makanan dan minuman datang, kami menyapa monyet yang melekat dengan warung Mbok, monyet dengan nama Temon. Terlihat berisi dan besar. Selain monyet, perhatian kami berfokus ke dua ekor kucing yang berbadan gembul nan lucu dengan tali yang melingkar di lehernya.
Setelah menikmati makanan, pukul 12.50 WIB kami melanjutkan perjalanan untuk turun. Perjalanan turun ditemani kabut yang mulai menebal dan menutupi pandangan. Kami tiba di pos 5 sekitar pukul 14.40 WIB. Selang beberapa menit berjalan tibalah di area camp. Kami segera membongkar tenda dan packing. Setelah persiapan, pukul 15.01 WIB kami melanjutkan perjalanan turun menuju basecamp dan diawali dengan berdoa bersama.
Perjalanan menuju basecamp sangat menguras tenaga apalagi cuaca yang bisa dikatakan cukup buruk. Rintik hujan silih berganti mulai membasahi tubuh. Langit pun mulai gelap. Jalur yang dilewati penuh dengan genangan air berwarna coklat. Ketika dipijak air pun menembus masuk ke dalam sepatu. Tak hanya itu, alat penerangan yang terbatas juga menambah cobaan ketika perjalanan turun. Jalur setapak penuh genangan air membuat kaki mudah tergelincir. Tak jarang orang-orang banyak yang terjatuh termasuk Aku yang terjatuh berulang kali. Kalimat “5 menit lagi sampai” sudah 10 kali terdengar.
Sekitar pukul 18.30 WIB kami tiba di pos 2 dan memutuskan untuk istirahat sembari menyalakan satu bungkus parafin untuk sekadar menghangatkan tangan yang mulai menggigil kedinginan. Hujan pun samar-samar mulai berjatuhan kembali. Di sebuah shelter banyak obrolan yang terlontarkan mulai dari pertanyaan kapan bisa lulus hingga tawaran menambah satu hari untuk mendirikan tenda di pos 2, akan tetapi dengan saling memberi semangat dan saling menyakinkan pukul 19.00 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju pos 1 dan dilanjutkan menuju basecamp.
Setelah keluar dari jalur pendakian, kami memutuskan untuk menuju basecamp tanpa menggunakan jasa ojek dan berjalan kaki. Kondisi jalan yang berkelok yang belum sepenuhnya aspal, dominan batu, membuat kaki semakin tersiksa. Dengan guyuran hujan yang tak kunjung mereda, begitu setia menemani sampai akhirnya tiba di basecamp pukul 22.25 WIB.
Sesampainya di basecamp, yang dipikiranku hanya ingin merebahkan tubuh, tak lupa kami juga menyerahkan sampah logistik ke pihak basecamp. Setelah bersih-bersih diri, kami pun memutuskan untuk bermalam di basecamp dan melanjutkan perjalanan pulang keesokan harinya.
Senin, 20 Januari 2025
Setelah cukup untuk beristirahat, pukul 08.53 kami melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Madiun lebih tepatnya menuju rumahku. Rute yang dipilih sedikit berbeda ketika berangkat menuju basecamp, namun tetap bertemu dengan jalan raya Sine. Selama perjalanan, aku terpukau melihat hamparan sawah dengan aliran sungai yang terlihat jernih. Nampak orang-orang berladang sembari bercengkrama dengan sesama, terlihat asri dan menyejukkan hati. Tak lupa pemandangan Gunung Lawu yang nampak begitu jelas yang semakin menjauh.
Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam mata ku mulai menyiut, akhirnya kami sampai di kota Madiun. Kesialan pun kembali muncul, ban motor yang dikendari Akar dan Esem mengalami kebocoran. Dengan raut wajah yang cukup lelah, kami mencari tambal ban, dan selang berapa menit kita bertemu dengan tambal ban. Setelah masalah teratasi, kami pun tergoda dengan banner semangkok mie dan kami pun membelinya. Sekitar pukul 12.00 WIB kami tiba di rumahku.




Komentar
Posting Komentar