Catatan Perjalanan Gunung Wilis
Gunung Wilis, nama yang mungkin tidak terlalu familiar dikalangan pecinta alam, khususnya yang berbasis di Besuki Raya. Pamornya memang tidak se-terkenal gunung-gunung lainnya di Jawa seperti Lawu, Butak, Arjuno-Welirang, Semeru, Raung, dan lain-lain. Mungkin karena jalur pendakiannya sendiri baru mulai dirintis pengelolaannya ketika awal 2018- 2019. Tapi jangan salah, Gunung Wilis punya banyak jalur pendakian dengan puncak yang berbeda-beda. Orang-orang mengenal Wilis, di buku dan di peta maklum ditulis demikian ini, namun ada lebih dari 5 puncak tertinggi yang masing-masing bisa dicapai di 5 Kabupaten berbeda. Letak gunung ini berada diantara Gunung Lawu dan Gunung Kelud, membentang dari Kabupaten Madiun – Ponorogo – Nganjuk- Kediri – Tulungagung dan sebagian masuk Kabupaten Trenggalek. Masing-masing kabupaten punya jalur pendakian yang menuju ke puncak tertinggi, di Tulungagung puncak tertingginya adalah puncak Wilis setinggi 2.182 Mdpl, di Kediri dan Nganjuk terdapat puncak Limas setinggi 2.300 Mdpl. Puncak tertinggi Gunung Wilis masuk wilayah Ponorogo dan Madiun, orang mengenalnya dengan nama Puncak Liman atau Trogati dengan ketinggian 2.565 Mdpl. Semua itu belum termasuk puncak-puncak lain setinggi 1.800-2000 an Mdpl yang tersebar di tengah-tengah bekas kaldera purba wilis.
Pendakian kali ini sebenernya bukan di
puncak Gunung Wilis, tetapi lebih tepatnya puncak Gunung Slurup kalau mengacu
pada peta RBI, tapi akan lebih mudah dipahami orang kalau menyebut Wilis saja (yang berarti hampir
mengacu pada seluruh jajaran pegunungan). Puncak Slurup letaknya disebelah
timur puncak Wilis, keduanya hanya dipisahkan oleh lembahan dengan vegetasi
alang-alang.
Persiapan sudah dimulai jauh-jauh hari
sebelum pendakian tanggal 30-31 Desember. Aku mulai mencatat perlengkapan mulai
dari pakaian, peralatan makan, paket logistik untuk 3X makan, peralatan
lapangan, P3K, survival kit, tenda, dan lain-lainnya. Semua ditulis dengan
rapi, biar tidak ada satupun yang tertinggal. Tak lupa juga kupelajari medan jalur
pendakian lewat aplikasi Avenza, semacam peta digital yang bisa dioperasikan
lewat android dengan hanya menyalakan GPS.
Aplikasi ini cukup membantu karena di hutan sangat sulit untuk menemukan
tanda medan. Tak lupa juga informasi
cuaca dan estimasi kuperoleh dari contact person pengelola basecamp. Dari
seluruh informasi yang sudah dihimpun, aku mencoba membuat estimasi perjalanan
diatas kertas untuk memperkirakan lamanya waktu pendakian. Sepertinya memang
terdengar ribet, tapi ya mau gimana lagi?
Naik gunung wajib main aman biar nyaman.
Dalam pendakian ini aku gak sendirian, tapi berdua dengan si
Gangsir. Gangsir tiba di Tulungagung sore hari tanggal 29 Desember, aku
menjemputnya di terminal kota. Malamnya persiapan dilakukan di rumahku, kami
mulai membahas rencana pergerakan yang dimulai esok pagi, kuperlihatkan
rancangan estimasi perjalanan pada Gangsir, disitu kami sepakat untuk berangkat
ke Basecamp Jurang Senggani Paling lambat pukul 09:00 pagi. Basecamp Jurang
Senggani adalah gerbang awal pendakian ke Gunung Wilis puncak Slurup, lokasinya
berada di ketinggian sekitar 800-900 an Mdpl secara administratif masuk Desa
Nglurup Kecamatan Sendang. Paginya sebelum berangkat, aku harus membeli
logistik subuh-subuh benar, untuk memastikan makanan tetap dalam keadaan fresh
dan baru pada pukul 6 kami mulai packing carier masing-masing.
Track awal masih didominasi hutan pinus dengan medan yang landai, aku berjalan dengan penuh perhitungan nafas, beban carierku mungkin saja 14-15 Kg atau bahkan lebih, itulah yang membuatku cukup lama berjalan, isinya tenda dan air sekitar 8 Liter. Gangsir yang Carriernya sedikit lebih ringan mulai berjalan didepanku ketika vegetasi mulai berubah dari perkebunan pinus menjadi hutan lindung, medan semakin menanjak. Selama perjalanan yang menurutku tidak terlalu lambat atau cepat tapi cukup menguras tenaga, beda halnya dengan Gangsir yang sama sekali tak ada tanda kesusahan diawal pendakian ini. Sesekali aku berhenti 1 Menit hanya untuk mengatur nafas sambil berdiri. Normalnya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai ke Pos 1, tapi entah kenapa dengan kecepatan kami berjalan sudah mencapai Pos 1 pukul 11:46. Pikirku lega juga, ternyata meskipun terasa lambat masih bisa lebih cepat 15 menit . Kami beristirahat di tempat landai yang terbuka sekitar 20 menit sebelum akhirnya bergegas menuju Pos 2.
Perjalanan ke Pos 2 sangat landai, track
yang kami lalui adalah punggungan, vegetasinya cukup lebat di kanan kiri,
didominasi oleh pohon dan paku-pakuan. Karena track yang terlalu landai kami
sempat bergurau kalau sekarang sedang berjalan dari Manong menuju Lodadi, nama tempat
dimana kami biasa berkegiatan di TN. Meru Betiri, memang medannya serupa itu.
Tapi semua gurauan itu langsung sirna ketika kami sudah berjalan 500 meter,
medan tanjakan kembali dimulai, aku berusaha tenang untuk mengatur nafas lagi,
carierku berat, sementara Gangsir masih tetap berjalan didepan dengan santai.
Perjalanan akhirnya sampai di Pos 2 pukul 12:47 yang disitu kami langsung duduk
melepaskan carier sejenak. Kiranya kami sudah berjalan 1 jam 20 menit tapi
anehnya waktu itu cukup lama 40 an menit kalau dibandingkan estimasi awal yang
sudah dirancang.
Kami Istirahat sekitar 25 menit, baju
lapangan yang kami kenakan sudah basah keringat sejak awal perjalanan dari Pos
1. Satu-satunya yang menjadi alasan kami tidak mau beristirahat lama-lama
adalah dingin. angin sering terdengar menurun dari lembahan di disi kanan atau
kiri, kadang kami mengira kalau itu suara gerimis, tapi matahari masih
bersinar, langit masih nampak cerah dibalik “payung alami” hutan. Pakaian yang
basah dan badan yang lelah cukup membuat kami waspada terkena hipotermia, mau
tidak mau kami harus terus berjalan.
Jarak antara Pos 2 dan 3 tak terlalu jauh, hanya beberapa ratus meter masih melewati punggungan yang bisa ditempuh dalam waktu lima menit. Setidaknya sampai ke pos 3 ada kesempatan untuk sedikit meringankan pernafasan. Kami lantas berangkat menuju Pos 4 sekitar pukul 13:19 atau sudah hampir 3 jam kami berjalan sejak dari basecamp.
Track menuju Pos 4 tidak ada bonus sama
sekali alias tanjakan terus. Kami berdua mulai kesulitan dan mengakui itu,
track mulai berkelok-kelok, melipir
punggungan lalu kemudian naik lagi, begitulah kira-kira bentuknya. Di track
inilah si Gangsir mulai merasakan tanda lelah, dia mulai mengeluh masuk angin sambil menenggak
antangin sachetan yang sudah dibawa dari awal. Susah payah kami berjalan sampai
akhirnya kami sudah berada di persimpangan jalan yang mengarah ke titik mata
air sekitar pukul 14:05. Mata air ini letaknya tepat dibawah Pos 4, disitu kami
langsung duduk pada area yang landai, lokasi mata air tinggal jalan melipir ke
samping area kami istirahat. Kami minum sebanyak-banyaknya sebelum botol air
diisi penuh kembali, memastikan kebutuhan air dalam tubuh kami tidak kurang.
Track yang cukup melelahkan.
Pukul 14:46 kami mulai melanjutkan perjalanan dari Pos 4 (Mata Air) ke Pos 5, tapi sialnya belum 1 menit kita berjalan sudah langsung sama-sama terkapar. Track yang menurut kami tidak masuk akal, tanjakan setinggi lutut kami sendiri yang baru saja kami lewati dan memang akan terus seperti itu medannya tiap beberapa meter kedepan. Kami merebahkan badan cukup lama, mungkin 10 menit. Setelahnya kami berusaha lebih keras untuk mengatur nafas, Gangsir mulai kolaps, tak kusangka justru kali ini aku yang berjalan didepan menaklukkan tanjakan satu per satu, padahal sebelumnya Gangsir lah yang selalu kupanggil untuk jangan terlalu cepat melampaui nafasku.
Track yang melelahkan ini membuat kami harus beristirahat tiap beberapa meter, Gangsir sudah tak kuat berjalan dan terus saja kupaksa. Sampai kira-kira pukul 15:50 Gangsir mulai menyetujui untuk kubawakan saja carriernya, sudah sejak dari pertengahan Pos 4 aku menawari bantuan “angkutan”. Bisa ditebak kalau perjalanan selanjutnya aku membawa dua beban berat depan belakang, aku hanya percaya diri kalau latihan fisikku sudah cukup dan akan cukup kuat. Biarpun saat itu Gangsir sudah tak lagi membawa beban Carrier, tapi tetap saja sangat kesusahan untuk berjalan, medan cukup terjal, aku masih terus berada sedikit jauh didepan. Tiap kali kami berhenti beberapa meter untuk mengambil nafas aku selalu membuka avenza untuk memastikan tanjakan ini tinggal berapa kontur lagi yang harus dihabiskan, seringkali aku berteriak pada Gangsir “Ayo 15 kontur lagi, 12 Kontur, 11 Kontur! dst”
sampai-sampai aku mengira 15 langkah adalah sekira 1 kontur. Avenza menurutku berguna juga buat psikologi kami yang mulai kewalahan dengan track karena setidaknya dengan melihat kontur kami bisa memperkirakan jarak yang akan kami tempuh.
Perjalanan sungguh berat, berkali-kali aku terjatuh di tanjakan karena lututku terhalang oleh Carier yang kugendong didepan, berkali-kali itu pula aku menggeram pada diriku sendiri kalau jangan sampai kalah dengan tanjakan. Gangsir Masih juga bersusah payah dibelakangku, jam menunjukkan pukul 16:40 dan vegetasi mulai tak terlalu rapat, sedikit demi sedikit cerah langit sore mulai nampak tak terhalang “payung alami” hutan, semangatku sedikit meningkat karena itu berarti sebentar lagi akan sampai di puncak. Saat itu aku bilang pada Gangsir yang duduk disebelahku “Sudahlah, nanti kalau sudah sampai Puncak, sakitmu itu langsung sembuh”. Puncak slurup adalah hamparan terbuka dengan vegetasi alang-alang. Sambil susah payah terus membawa 2 carrier tepat pukul 17:36, kami sampai di Puncak Slurup, seluruh lelah akhirnya hilang. Gangsir benar saja menjadi sehat saat melihat pemandangan lautan awan. Cepat-cepat aku naik ke area camp yang lebih datar dan terbuka.
Perjalanan akhirnya sampai juga, total
Kami menghabiskan sekitar 7 jam 10 menit perjalanan, padahal estimasinya adalah
8 jam kalau melihat betapa sulit dan lamanya kami berjalan dari Pos 4, belum
lagi dengan kondisi kesehatan Gangsir. Sesampainya dipuncak aku mulai mengamati
gugusan Pegunungan Wilis dengan puncak-puncak gunung yang tak memiliki jalur
pendakian itu, aku membuka kembali avenza untuk melihat nama puncak-puncak
gunung dihadapanku sambil membayangkan mungkin menarik juga kalau jalur baru
dirintis disana. Gangsir mulai sibuk berfoto, aku berjalan kesana kemari
menyusuri puncakan. Kami saling bergantian untuk berfoto mumpung masih terang
dan berjaga kalau saja besok pagi tertutup kabut dan kami bisa saja kehilangan
pemandangan.
Pukul 18:00 hari mulai gelap, Gangsir
mulai kedinginan terkena hantaman angin, setelah mondar-mandir di area puncak
tak satupun lokasi yang cukup aman untuk melindungi tenda kami dari hantaman
angin, semuanya tertutup dengan alang-alang setinggi hampir sebahu kami. Tak
mau mengambil waktu yang lama, segera kupilih lokasi yang masih memiliki
beberapa pohon disekitarnya untuk mendirikan tenda, waktu itu tak cukup untuk
membersihkan alang-alang dengan parang demi mendirikan tenda, langsung saja
kuinjak-injak semua alang-alang itu
sampai roboh dan berharap bisa jadi kasur alami alas tenda kami. Tenda
baru berdiri setelah 30 menit kemudian, kami segera masuk menghindari dingin,
kuurungkan niatku membuat api unggun, mungkin juga karena terlalu malas untuk
membuang energi lagi. Setelah masuk tenda kami mengganti pakaian lapang dengan
pakaian tidur dan segera memasak logistik
untuk makan malam.
Didalam tenda cukup hangat sampai kami
makan dan tidur pukul 20:00, lucunya sebelum tidur kami sama-sama minum obat
terlebih dahulu, bukan sakit, tapi kelelahan. Gangsir minum obat masuk angin,
aku minum obat pegal linu. Mungkin saja dalam 22 tahun kehidupanku, ini adalah
pendakian paling melelahkan setelah pendakian ke Semeru tahun 2018. Tidurlah
Kami sampai bangun pukul 06:00 pagi dalam keadaan segar. Bagaimana tidak, kita
makan dengan porsi cukup besar semalam, lalu minum dengan air yang cukup dan Istirahat lebih dari 8 jam. Baru kali ini
aku merasakan manajemen paling baik selama berkegiatan di hutan, sebelumnya
biasanya kalau gak kurang tidur ya kurang makan. Inilah yang kucari selama
pendakian, bisa belajar dengan baik, buat bekal pengalaman dimasa mendatang.
Sepertinya sudah cukup sampai disini catatan perjalanan ini, sudah cukup banyak Dan pasti lama untuk dibaca, langsung saja kalian melihat foto-foto kami selama di puncak Slurup. Selamat menikmati dan salam lestari!
By: Patas






Komentar
Posting Komentar