arong Ider Bumi di Desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi

 

Outline:

Wawancara dilakukan pada hari Minggu, 15 Mei 2022, dirumah bapak Suhaimi selaku Ketua Adat Osing.

Tema: Sosial dan Budaya.

Narasumber: bapak Suhaimi (Ketua Adat Osing desa Kemiren Kabupaten Banyuwangi). 


Barong Ider Bumi

Foto: Farhan Hidayatul Kahfi 

Kemiren adalah sebuah nama desa di wilayah Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Desa Kemiren adalah sebuah desa wisata, di desa ini terdapat perkampungan asli warga suku Osing. Desa Kemiren memiliki ritual adat yang bernama Barong Ider Bumi. Barong Ider Bumi merupakan ritual adat tahunan di Kemiren, tepatnya dilaksanakan pada 2 syawal, Barong Ider Bumi ini juga merupakan barong pertama yang ada di Banyuwangi. Ritual ini mirip seperti karnaval karena berjalan mengelilingi desa Kemiren Timur sampai ke Kemiren Barat.

Pada awalnya Barong Ider Bumi ini bukanlah suatu ritual melainkan sebuah arak-arakan barong yang bertujuan untuk menghibur masyarakat Kemiren, tetapi Barong Kemiren disakralkan karena berkaitan dengan tolak bala. Barong Kemiren dulunya diberikan kepada Tumapel atau Raja untuk menangkal bala dari para leluhur antara buyut Cili dan mbah Sanimah yaitu pembuat barong pertama. Arakan-arakan Barong pernah tidak dilaksanakan dikarenakan keadaan hujan lebat, dan akibatnya desa Kemiren terkena musibah dan masyarakatnya banyak yang terkena penyakit dan banyak juga yang meninggal. Kemudian salah satu sesepuh desa menerima wangsit melalui mimpi, bahwa pemilik barong berpesan “jangan meninggalkan arak-arakan barong”. Setelah itu arak-arakan barong dilaksanakan kembali seperti biasanya dan juga diadakannya selametan, alhasil musibah yang menimpa desa Kemiren menjadi hilang dan masyarakat yang sakit menjadi sembuh tanpa pengobatan. Sejak saat itu arak-arakan barong tidak berani ditinggalkan dalam keadaan apapun, oleh karena itu sekarang ditetapkan sebagai upacara adat.

Pada tahun 1999 desa Kemiren ditetapkan sebagai Desa Wisata Adat Osing, akhirnya arak-arakan barong diganti nama menjadi Barong Ider Bumi yang memiliki arti mengelilingi desa (ider= mengelilingi, bumi= desa) karena sudah masuk di agenda festival Banyuwangi.

Barong Kemiren memiliki perbedaan dengan barong-barong yang lain, barong Kemiren merupakan simbol kehidupan, karena barong Kemiren memiliki warna paten yang tidak boleh dikurangi ataupun ditambah. Barong Kemiren memiliki 5 warna yang disebut “panco warno” antara lain putih, merah, kuning, hitam, hijau. Kelima warna tersebut menyimpulkan sifat manusia, sedangkan fisik barong yang memiliki mulut yang selalu menganga atau terbuka memiliki arti “alwama” yang seperti sifat manusia yang tidak pernah merasa cukup dan selalu merasa kurang, mata melotot memiliki arti “amarah” sama seperti manusia yang juga memiliki amarah, sayap warna kuning merupakan simbol “keindahan atau kesenangan” sama seperti manusia yang selalu ingin mencari kesenangan, bagian mahkota merupakan lambang “kesucian atau kewibawaan” yang memiliki filosofi sejahat apapun manusia tetap memiliki hati nurani, bagian keling memiliki arti agar kita iling atau ingat, bagian burung menghadap ke belakang memiliki arti kita jangan melihat kedepan saja, sekali-kali tengok kebelakang karena pengalaman dapat dijadikan pembelajaran untuk masa depan yang lebih baik, barong diperankan 2 orang membutuhkan kebersamaan dan kekompakan, jadi intinya saling membantu.

Orang yang memainkan Barong Ider Bumi tidak harus orang asli Kemiren, tetapi selama ini pasti orang Kemiren yang memainkan Barong Ider Bumi. Orang yang memainkan barong tidak ada yang perempuan, dikarenakan menurut kepercayaan dulu kalau laki-laki dan perempuan bergabung akan menimbulkan masalah. Walaupun peran perempuan, tetap laki-laki yang menjadi perempuannya. Untuk prosesi yang dilaksanakan yaitu sebelum Barong Ider Bumi dimainkan, sebelum itu pemilik barong harus melakukan ritual di petilasan buyut Cili untuk memberitahu akan dilaksanakannya Barong Ider Bumi. Barong Ider Bumi memiliki 3 jenis yaitu Barong Cilik, Barong Lancing dan Barong Tuwek. Perbedaan 3 barong tersebut hanya ada di orang yang memainkan, Barong Cilik biasanya dimainkan oleh anak-anak kecil, Barong Lancing biasanya dimainkan oleh para remaja, dan Barong Tuwek dimainkan oleh orang dewasa. Barong Ider Bumi juga memiliki pakem yaitu harus melakukan ritual ke petilasan buyut Cili sebagai pemilik barong pertama di Banyuwangi dan setelah itu melakukan selametan masal.

Pada tahun 1995 diadakannya penelitian untuk desa yang layak dijadikan sebagai Desa Wisata Adat Osing Banyuwangi, hasil dari penelitian tersebut desa Kemiren terpilih karena masyarakatnya masih menggunakan bahasa Osing asli dan masyarakatnya juga sangat kuat menjaga adat dan budaya, bahkan budaya luar yang masuk tidak akan dapat diterima oleh masyarakat Kemiren. Oleh karena itu masyarakat Kemiren tidak takut dengan terkikisnya budaya walaupun banyak pendatang yang masuk ke desa Kemiren, bahkan para pendatang banyak yang belajar tentang adat dan kebudayaan yang ada di Kemiren. Dampak bagi masyarakat setelah adanya dijadikan Desa Wisata Adat Osing, masyarakat mendapatkan keuntungan karena banyaknya pengunjung yang datang, sehingga menambah dan meningkatkan perekonomian contohnya banyak warung-warung yang didirikan. Dampak lainnya yaitu anak muda yang sebelumnya tidak mempunyai kegiatan menjadi aktif menerima tamu atau pengunjung yang ingin belajar Barong Ider Bumi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan: Pendakian Gunung Lawu 3265 MDPL

MENAKLUKKAN PUNCAK: CATATAN PERJALANAN DI KETINGGIAN

Pelarian ke Puncak Sunyi