Ombak dan Buih
Dua insan sedarah yang tak searah.
Kata kasar familiar keluar saat tengkar.
Unjuk keberhasilan tak berbalas pujian, melainkan cela dan kelakar.
Saat tertekan, takdir dijadikan alasan.
Yang satu merasa terombang ambing,
yang lain terkoyak koyak.
Lisan teriak bajingan, pikiran tak sejalan.
Batin hanya bisa tersedu, berkawan dengan rindu.
Ego dibesarkan, nurani ditekan mati mati an.
Sekadar sampaikan rindu sudah enggan.
Bukan lagi problematika asmara, tapi tentang jarak ombak dan buih lautan.
Berkecamuk nuraninya.
Dunia bukan sesederhana hitam dan putih, kesalahan dan kebenaran.
Beruntung saja tuhan menjaga aibnya.
Persetan kepercayaan!!!
Sahabat kekancan, bisa saling khianati diterangnya sinar rembulan.
Tentu saja seorang bajingan bisa main aman, dengan dalih meminta kesempatan.
Lalu pendosa yang berjasa, dicap bajingan oleh masa?
Persetan itu semua!!!
Pendosa tetaplah tokoh hitam meski lampu tak padam!!!!!!
Krisis, meringis, tragis...
Dompet menipis, melihatnya saja hati seakan teriris...
Sumber penghidupan habis...
Memang tak semua perihal uang, namun semua butuh uang...
Malang bukan kepalang...
Kemiskinan semakin meradang...
Yang kaya semakin kaya...
Yang miskin semakin miskin...
Pembagian memang sama rata, tapi bukan adil namanya...
Yang kaya pun dapat jatah bantuan, padahal seharusnya membantu bukan ikut di antrian...
Salah siapa jika sudah begini?
Pemerintah pun tak mau dituding, memilih sembunyi dibalik dinding...
Anjing...
...
Arsa
Komentar
Posting Komentar