Dari Hutan ke Hati: Perjalanan Penuh Cerita dan Pelajaran
Perjalanan ke Bandealit dan Kunjungan ke Desa Lohdadi
Perjalanan ke Bandealit kali ini terasa lebih mudah daripada tahun lalu. Kami berangkat pagi dengan semangat. Jalan aspal yang dahulu berbatu kini halus dan nyaman dilalui. Kicau burung dan angin segar membuat suasana lebih menyenangkan.
Di Desa Andonrejo, kami singgah di rumah Pak Hafid untuk menunggu teman-teman yang bersepeda. Sambil menunggu, kami minum air kelapa dan ngobrol santai. Tak lama kemudian mereka tiba, lalu menitipkan sepeda di teras rumah Pak Hafid.
Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Airnya jernih dan dingin. Di kiri dan kanan jalan, pohon karet tinggi menaungi kami. Medan tanah becek membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset. Di tengah jalan, aku melihat sekelompok monyet turun dari pohon, pemandangan itu membuatku terkagum.
Sekitar sore, kami sampai di lapangan kecil untuk mendirikan tenda. Kami bersama-sama memasang tiang dan menegakkan kain tenda hingga rapi. Tenda ini akan menjadi tempat istirahat selama beberapa hari ke depan.
Kemudian, tim jurnalistik kami bergerak ke rumah Mak Sri di Desa Lodadi. Tujuan kami wawancara dan observasi masalah lokal. Mak Sri menyambut kami dengan teh hangat dan pisang goreng. Dari Mak Sri, kami belajar soal panen karet dan cara menjaga lingkungan. Sebelum kembali ke perkemahan, saya mewawancarai Pak Salman tentang tujuh kepala keluarga di Desa Lodadi. Ceritanya akan saya tulis untuk feature.
Di perkemahan, kami mengadakan evaluasi dan briefing. Setelah itu, kami mandi, lalu bersama-sama memasak dan makan malam. Kami menutup hari pertama dengan duduk di sekitar api unggun, berbagi cerita horor dan kenangan lama.
Petualangan Hari Kedua di Desa Andongrejo
Pagi hari, saya terbangun lebih awal karena suara burung dan alarm yang saya pasang. Setelah mematikan alarm, saya sempat terlelap lagi hingga pendamping mengingatkan untuk bangun. Udara pagi terasa dingin dan sejuk, sehingga saya segera duduk di samping api unggun untuk menghangatkan diri.
Tak lama kemudian, saya dan pendamping menuju aliran sungai tak jauh dari lokasi peristirahatan untuk bersih‐bersih. Setelah mandi dan berganti pakaian, kami sarapan untuk mengisi tenaga. Sambil menunggu teman‐teman selesai bersiap, saya merapikan barang bawaan.
Setelah semuanya siap, kami berangkat kembali ke Desa Andongrejo untuk melanjutkan wawancara sesuai isu yang telah ditentukan. Dalam perjalanan, kami singgah sejenak untuk bermuhasabah: mengevaluasi diri, memilih isu utama, dan merancang daftar pertanyaan wawancara.
Perjalanan dilanjutkan hingga tiba di rumah Pak Hafid, yang akan menjadi tempat istirahat selanjutnya. Di sana, kami menyapa Pak Hafid yang sedang berbincang dengan dua warga. Setelah berdiskusi, kami melanjutkan wawancara ke dua warga lain, salah satunya istri ketua RW.
Usai wawancara, kami kembali ke rumah Pak Hafid, lalu pergi ke sungai untuk berbagi cerita tentang rangkaian kegiatan “DIKJUT KE 33” hari ini. Ketika adzan Ashar berkumandang, kami kembali untuk meliput acara lanjutan. Meskipun menemui beberapa kendala teknis, mulai dari narasi, kameramen, hingga penulisan naskah, kami berhasil menyelesaikan liputan hari ini.
Selesai liputan, kami kembali ke rumah Pak Hafid untuk evaluasi dan briefing. Setelah itu, salah satu dari kami mandi dan mulai menyiapkan makan malam. Dengan berkumpul di depan rumah Pak Hafid bersama beberapa warga, kami mengobrol santai hingga mengantuk. Akhirnya, kami mengakhiri hari dengan istirahat.
Jejak Hari Ketiga
Pagi sekali, saya terbangun lebih awal. Berusaha menghilangkan kantuk dengan menggerakkan badan, saya tetap tertidur hingga pendamping membangunkan kembali. Bersama pendamping, kami membangunkan teman‑teman yang lain. Setelah semua terjaga, saya mencuci muka dan merekam video perjalanan hari ini karena hari ketiga bertepatan dengan jadwal saya sebagai mc.
Setelah bebersih diri, kami berjalan ke sungai untuk memasak dan sarapan bersama. Di tepi air yang jernih, kami menyalakan kompor portabel, menyiapkan nasi dan lauk sederhana, lalu duduk melingkar sambil mengobrol hangat. Selesai makan, beberapa dari kami melanjutkan penulisan naskah dan penyuntingan bahan video, memanfaatkan suara gemericik sungai sebagai latar rekaman.
Menjelang tengah hari, pendamping konservasi datang menghampiri kami. Tak lama kemudian, hujan gerimis turun. Dengan cepat kami berkemas dan berpindah ke warung Bu Sri yang tak jauh dari sana tempat singgah favorit kami. Di warung, kami melanjutkan liputan wawancara, merekam cerita Bu Sri tentang upaya pelestarian flora setempat hingga berita terbaru di desa.
Usai liputan, kami kembali ke rumah Pak Hafid. Di halaman, sudah berkumpul anak‑anak konservasi yang riang. Kami istirahat sambil menunggu kedatangan truk. Sambil bercanda, tawa dan canda mengisi sore hingga truk datang. Kami berpamitan hangat pada warga terutama Pak Hafid sekeluarga dan Bu Sri sebelum naik truk untuk pulang.
Perjalanan pulang ditemani udara dingin dan hujan rintik kecil. Meski basah dan dingin, suasana hati kami tetap hangat, penuh rasa syukur atas pengalaman dan kebersamaan yang terjalin selama tiga hari petualangan di Desa Andongrejo.
Oleh Felis _XLI-24.33.385-SWP
Komentar
Posting Komentar