Desa Lodadi: Benarkah Kesunyian Tujuh Kepala Keluarga Membuatnya Terpencil?
Di balik rimbunnya pohon karet di Merubetiri, terletak Desa Lodadi yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Meskipun jumlahnya sedikit, kehidupan mereka tetap dekat dengan alam. Setiap pagi, kicauan burung dan hembusan angin di dedaunan karet mengiringi aktivitas harian. Saat senja, cahaya matahari menembus ranting pohon, menciptakan suasana yang tenang.
Pak Salman, warga Desa Kalicawang yang letaknya tak jauh sebelum Lodadi, menceritakan perkembangan desa ini. “Dulu, waktu saya kecil, kepala keluarga di sini belum mencapai tujuh. Setelah beberapa orang lanjut usia meninggal, jumlahnya sempat berkurang. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlahnya bertambah hingga seperti sekarang,” ujarnya sambil tersenyum.
Walaupun hanya tujuh keluarga, Desa Lodadi tidak pernah sepi. Warga dari dusun sekitar sering singgah untuk mengobrol di bawah pohon karet. Salah satu keluarga Pak Salman bekerja sebagai pekebun karet dan pencari lebah untuk mengambil dan menjual madu Merubetiri.
Berbeda dengan desa yang punya larangan menambah kepala keluarga, Lodadi bersikap terbuka. “Jika ada yang ingin menetap, kami persilakan asalkan mau menyesuaikan diri dengan kebiasaan di sini,” jelas Pak Salman. Sampai saat ini, belum ada warga baru yang benar-benar menetap, sehingga jumlah kepala keluarga tetap tujuh.
Kehidupan di Lodadi sama seperti desa pada umumnya. Akses menuju desa mudah dilalui, jalan setapak cukup untuk pejalan kaki dan pesepeda. Hal ini menunjukkan bahwa lokasi terpencil tidak selalu membuat sebuah desa terasing secara sosial. Desa Lodadi tetap terhubung dengan masyarakat sekitar, memelihara tradisi lokal, dan memperkuat rasa kebersamaan dan persaudaraan.
Oleh Felis_XLI.24.33.385-SWP
Komentar
Posting Komentar