Menyapa Masyarakat Bandealit : Kegigihan Warga Meski Akses Transportasi Yang Belum Merata

 Kawasan Taman Nasional yang menjadi tempat keanekaragaman flora dan fauna, terkadang menjadi tempat beberapa masyarakat untuk mendiami dan tinggal di kawasan tersebut. Pada kawasan Taman Nasional Meru Betiri contohnya, saya memiliki kesempatan untuk mendatangi dan menyapa warga dusun Bandealit yang berada di desa Andongrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember. Daerah yang berada di ujung selatan kabupaten Jember dan berbatasan langsung dengan pantai dan kabupaten Banyuwangi

Dusun bandealit yang terletak sangat jauh dari area perkotaan dan mendiami daerah terpencil, membuat akses seperti pendidikan, listrik, dan pembangunan jalan masih belum merata. Meskipun pembangunan jalan pernah terjadi pada tahun 2024 kemarin, namun pembangunannya tidak merata dan masih ada spot – spot yang perlu di perhatikan dan harus menjadi prioritas. Ketika saya mengunjungi daerah Lodadi, saya harus menyebrangi sungai yang cukup besar untuk melintasinya. Kebetulan ketika saya menyebrangi sungai, air sungai masih cukup dangkal dan arus tidak begitu deras. Saya menemui mak Sri yang merupakan warga lokal yang sudah lama tinggal di dusun Bandealit daerah Loadadi.

“Masyarakat yang tinggal di daerah Lodadi harus menyebrangi sungai yang sangat besar, jika air sungai naik warga tidak bisa menyebrangi sungai dan menggangu aktivitas warga sekitar.” Ujar Mak Sri kepada saya. Tak adanya pilihan akses jalan lagi membuat warga setempat sangat bergantung pada jalan satu – satunya dengan menyebrangi sungai. Terkadang ada beberapa warga yang memaksa untuk tetap melintasi sungai dengan berenang, hal itu biasanya dilakukan karna adanya kebutuhan mendesak. Beberapa kali ketika ada tamu yang berkunjung mereka disarankan untuk memarkir kendaraannya di seberang sungai saja, khawatir jika air sungai sudah mulai naik dan kendaraan tidak bisa menyebrang tamu – tamu tersebut terpaksa menginap sampai air sungai mulai surut lagi.

Pada tahun 1980 – 1990 jembatan penghubung untuk menyebrangi sungai sebagai akses masyarakat Lodadi pernah ada. Karna kurangnya perawatan yang dilakukan akhirnya jembatan itupun rusaj termakan oleh waktu. “sudah ada perencanaan pembangunan jembatan lagi, namun sampai saat ini tidak pernah adda kelanjutannya.” Ujar mak Sri ketika saya wawancarai. Kebutuhan masyarakat seperti bekerja, pendidikan sekolah, dan kebutuhan lainnya sering terganggu hanya karna air sungai mulai naik tiba – tiba. Meskipun tidak setiap hari air sungai naik, namun tetap saja ada kekhawatiran warga sekitar untuk tetap waspada ketika melintasi sungai.

Dalam kasus ini seharusnya pemerintah perlu memperhatikan lagi kebutuhan masyarakat dusun Bandealit, khususnya akses transportasi yang belum merata. Pemerintah desa harus menjadi peran aktif untuk mengupayakan pemerataan dan infrastruktur jalan bagi kepentingan masyarakat, sampai kapan masyarakat Bandealit hidup dengan segala keterbatasan. Mereka yang bergantung pada akses jalan tersebut terkadang harus terhenti hanya karna tidak adanya jembatan sebagai akses jalan utama.



Oleh Galan_XLI.24.33.384-SWP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan: Pendakian Gunung Lawu 3265 MDPL

MENAKLUKKAN PUNCAK: CATATAN PERJALANAN DI KETINGGIAN

Pelarian ke Puncak Sunyi