Perjalanan Selama Pendidikan Lanjutan SWAPENKA XXXIII Di Dusun Bandealit
Hari sabtu 10-Mei-2025 bersama pagi yang cerah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, saya bersama teman – teman seorganisasi mapala SWAPENKA mengikuti karantina dari semalam. Karantina yang kami lakukan merupakan rangkaian kegiatan Pendidikan Lanjutan (DIKJUT) SWAPENKA XXXIII. Pendidikan Lanjutan adalah kegiatan wajib untuk anggota SWAPENKA guna memperdalam ilmu kepencintaalaman dan pendivisian keilmuan. Pagi ini saya dan peserta yang lain melakukan persiapan upacara pemberangkatan yang dilakukan di lapangan futsal Fakultas Ilmu Budaya pada jam 7.00 WIB. Barang – barang yang sudah saya persiapkan selama tadi malam saya cek kembali seperti alat tulis, buku, baju ganti, logistik, dan lain-lain. Setelah mengemas barang – barang, sekitar jam 7.45 WIB upacara pemberangkatan kami mulai. Suasana upacara cukup tidak kondusif dikarnakan tidak ada latihan upacara terlebih dahulu, mungkin kekurangan ini akan menjadi bahan evaluasi kami bersama. Setelah upacara selesai, kami menunggu truk yang akan mengantarkan kami ke kawasan Taman Nasional Meru Betiri yang berada di dusun Bandealit, Desa Andongrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember, daerah ini yang nantinya kami tempati selama 3 hari ke depan untuk berkegiatan.
Selama di perjalanan menuju Taman Nasional Meru Betiri sangat membosankan, tidak ada senda gurau atau obrolan lain yang sering kami lakukan ketika di sekertariat. Mungkin karna kami merasa lelah dulu karna cuaca panas dan matahari yang sangat terik menyorot kami selama perjalanan. Tak ada suara apapun selain bising kendaraan yang saling salip – salipan. Ada yang sudah terlelap tidur dengan menutupi mukanya dengan baju PDH, ada yang duduk sambil bengong, ada juga yang berdiri di pintu bak belakang. Saya mencoba untuk tertidur pulas juga dengan harapan ketika saya bangun kami sudah sampai di pos pertama desa Andongrejo. Kurang lebih selama 1 jam kami di dalam bak truk akhirnya kami sampai juga di pos pertama, yaitu pintu masuk menuju kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Kami berhenti sebentar untuk menunjukkan simaksi yang sudah kami urus jauh – jauh hari. Sekitar jam 11.00 WIB kami melanjutkan lagi perjalan menuju dusun Adongsari. Selama di perjalanan saya melihat beberapa pepohonan yang rimbun sudah mulai berganti dengan pohon pisang. Saya rasa hal ini sangat disayangkan, penebangan pohon yang dilakukan untuk keperluan warga sekitar atau pribadi harus diganti dengan ladang bisnis tanpa memikirkan dampak ekologis yang akan terjadi di masa mendatang. Kurang lebih 30 menit kami melintasi hutan Meru Betiri, akhirnya kami sampai di dusun Andongrejo tepatnya di daerah cawang. Kami turun dan menyapa beberapa warga sana yang sebelumnya sudah kami kenal. Kami menurunkan barang – barang bawaan yang ada di bak truk dan menumpang istirahat di warung milik ibu Sri. Ibu Sri yang berjualan minuman es dan makanan seperti mie dan sosis – sosisan sangat pas dengan keadaan kami yang saat ini sedang kehausan juga kelaparan selama di perjalanan. Sembari mengisi tenaga di warung ibu Sri, kami bercanda dan mengobrol seperti biasa, suasana yang tidak saya dapatkan selama di perjalanan tadi. Dahaga kembali segar perut kembali terisi, kami pamit ke ibu Sri untuk melanjutkan perjalanan ke rumah bpk. Hafid, rumah yang akan menjadi basecamp utama kami. Jaraknya tidak jauh dari warung ibu Sri. Setelah kami sampai di rumah bpk. Hafid, kami bersalaman dan berkenalan satu persatu dengan keluarga beliau. Bpk. Hafid sendiri adalah warga lokal yang bekerja di Tanam Nasional Meru Betiri dan sering menjadi tempat singgah teman – teman mapala jika sedang berkegiatan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri sama seperti yang kami lakukan sekarang. Perjalanan kami masih belum sampai, tempat yang akan kami kunjungi dan menjadi tempat berkegiatan yaitu daerah Lodadi tepatnya di perkebunan karet Dusun Bandealit. Kami izin ke bpk. Hafid untuk melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki, jarak yang kami tempuh dari daerah Cawang ke Lodadi sekitar 2 – 3 Km. Sekitar setengah jam kami berjalan dengan menyembrangi sungai dan menyusuri perkebunan karet, kami telah sampai di tujuan kami untuk berkegiatan. Kami membangun shelter dengan flysheet dan mengeluarkan barang – barang yang sudah kami bawa di tas carrier sebelumnya. Sekitar jam 13.00 WIB sebelum kami berkegiatan, kami melakukan breafng terlebih dahulu. Saya yang kebetulan masuk di divisi jurnalistik dengan 2 teman saya dan 1 pendamping akan menjadi satu tim selama 3 hari kedepan. Sekitar jam 14.00 WIB kami mengunjungi rumah warga yang berada di daerah Lodadi, daerah yang hanya memiliki 7 KK. Suasana desa yang jauh dari kata ramai dan udaranya yang sangat sejuk dengan dikelilingi rimbunnya pohon menjadikan desa ini nampak asri. Saya dan tim jurnalistik mengunjungi salah satu warga yang sudah berpuluh – puluh tahun tinggal di dusun Bandealit daerah Lodadi, warga ini bernama mak Sri. Mak Sri sendiri memang sudah akrab sekali dengan kami (SWAPENKA), setiap tahun ketika kami berkegiatan di Kawasan Taman Nasional Meru Betiri kami selalu mengunjungi rumah mak Sri yang berada di daerah Lodadi. Saya dan tim jurnalistik SWAPENKA berkesempatan untuk mewawancarai mak Sri, satu persatu kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada mak Sri tentang isu – isu yang kami angkat untuk membuat feature. Kami mengobrol banyak dengan mak Sri, entah tentang pertanyaan yang kami ajukan atau candaan – candaan ala mak Sri. Sekitar 2 jam waktu yang kami habiskan bersama mak Sri, waktu yang sangat singkat untuk kami yang ingin berlama – lama berada di sana. Kami izin pamit untuk kembali ke shelter pada mak Sri, tak lupa mak Sri memberikan oleh – oleh yaitu bahan makanan yang mak Sri tanam sendiri kepada kami. Setelah sampai di shelter, kami lanjut untuk evaluasi kegiatan hari pertama ini. Selesai evaluasi, kami lanjut dengan bersih – bersih badan di sungai tempat kami membangun shelter juga menyiapkan alat masak dan bahan – bahan makanan untuk makan malam kami nantinya. Sore menjelang malam yang dingin di tengah – tengah perkebunan kopi yang bersebelahan dengan hutan, saya dengan beberapa teman yang lain ingin membuat perapian. Saya mencari beberapa batang kayu yang sudah kering dan sudah jatuh dari pohonnya. Hari semakin malam, masakan yang sudah selesai di buat akhirnya matang juga. Kami menyantap makanannya dengan lahap. Malam yang gelap, hanya ada perapian di tengah – tengah kami menjadikan suasana malam ini sangat menyenangkan. Sepanjang malam kami ditemani dengan obrolan dan candaan ala anak SWAPENKA seperti biasanya. Topik yang tidak pernah habis untuk menjadi bahan kami ketika berada di sekretariat maupun sedang berkegiatan di alam bebas saat ini.
Pagi yang masih berembun, saya mulai terbangun dari tidur di dalam shelter, udara yang sejuk di perkebunan karet dengan ditemani suara burung – burung yang ramai. saya mulai bersih – bersih badan di sungai yang kemarin saya hampiri. Hari ini adalah hari kedua kami harus berlanjut untuk memulai kegiatan kembali. Tim jurnlistik yang hari ini berkegiatan di daerah cawang harus berpisah dengan tim Konservasi dan Gunung Hutan yang ada di daerah Lodadi saat ini. Kami melakukan breafing sebentar dan packing barang – barang kembali ke tas carrier. Kami mulai berjalan menyusuri jalan yang kami lewati kemarin, karna tujuan kami saat ini kembali ke basecamp utama yang ada di Cawang, yaitu rumah bpk. Hafid. Selama di perjalanan kami berjumpa dengan beberapa warga lokal yang bekerja sebagai pencari getah karet, kami juga disibukan dengan diskusi karna kami belum menentukan judul yang akan kita angkat untuk keperluan soft news nanti. Ketika kami sudah setengah perjalanan, kami menjumpai gubuk yang berada di tengah – tengah perkebunan karet. Kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di gubuk dan melanjutkan untuk menentukan judul sebelum kami sampai di daerah Cawang. Setelah lama berdikusi, akhirnya kami menentukan tema dengan judul “Pengawasan Pihak Taman Nasional, Ketidakpedulian Masyarakat Dengan Ilegal loging”. Kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp yang ada di rumah bpk. Hafid. Setelah sampai di basecamp, kami mencoba mengobrol dengan bpk. Hafid yang rencananya akan menjadi narasumber untuk kami wawancarai. Kami membuka pembicaraan yang berkaitan dengan judul berita yang akan kami angkat, harapannya kami mendapatkan data – data untuk kami menyelesaikan soft news. Selama 1 jam kami bersama bpk. Hafid dan beberapa warga yang sedang santai, banyak yang kami bahas bersama mereka dari penebangan liar, hewan endemik, madu hutan, hingga perpolitikan yang ada dusun Bandealit. Sekitar jam 12.00 WIB kami izin untuk pindah ke rumah warga yang lain untuk kami wawancarai. Kami kembali ke warung ibu Sri yang sebelumnya kami singgahi, kami menyapa ibu Sri sesekali beliau menanyakan kelancaran kegiatan kami. Di sana kami memilih warga yang akan kami wawancarai selanjutnya, saya memilih ibu Sri dan kedua teman saya akan mewawancarai RW yang ada di sekitar daerah Cawang. Saya mencoba membuka obrolan dengan ibu Sri dan beliau menanggapinya dengan santai. Beberapa pertanyaan yang saya ajukan selalu di jawab dengan baik oleh beliau, meskipun ibu Sri sedikit sinis mendengar pertanyaan saya yang terkadang sensitif ketika melontarkan pertanyaan seputar ilegal loging. Obralan kami tak sampai di situ saja, saya dengan ibu Sri membahas banyak seputar sejarah jembatan PKI yang menjadi akses menyebrangi sungai kecil yang ada di jalan sebelum masuk daerah Cawang, wisatawan yang sering berkunjung ke pantai Bandealit yang berada di daerah Kali Pantai, juga ibu Sri yang sudah menetap di dusun Bandealit sejak kecil. Sekitar 30 menit teman saya yang sebelumnya mewawancari RW sudah kembali, karna dirasa cukup untuk data – data yang sudah diperoleh, kami memutuskan untuk menyudahi sesi wawancara. Kegiatan kami lanjutkan dengan membuat vidio liputan, untuk yang pertama kami mencari narasumber yang mau untuk kami ajak membuat vidio liputan, kebetulan anak ibu Sri yang juga berprofesi sebagai pengajar akhirnya mau setelah kami bujuk. Take vidio dengan narasumber sudah selesai, kami lanjutkan untuk membuat take vidio yang lain. Saya menjadi reporter untuk peliputan ini, sangat kesusahan ketika harus berbicara di depan kamera. Butuh banyak take vidio yang kami ambil dan akhirnya berhasil mendapatkan hasil yang lumayan bagus dari take vidio sebelumnya. Sekitar jam 17.00 WIB hari mulai menjelang malam, kami kembali ke basecamp untu menemui bpk. Hafid lagi. Kami meminta izin untuk bermalam di rumah beliau yang kebetulan menjadi basecamp kami. Setelah kami diizinkan untuk menginap, kami di perbolehkan untuk bersih – bersih badan dan meminjam dapur untuk kami memasak. Saya yang sedari tadi asik mengobrol dengan warga lokal akhirnya di ingatkan untuk segera bersih – bersih badan juga. Setelah bersih – bersih badan selesai kebetulan masakan juga sudah matang juga, kami lanjutkan dengan makan yang menunya kali ini adalah tempe kecap dan sarden kaleng. Perut sudah kenyang dan bau badan sudah hilang, saya lanjutkan untuk menemui warga yang sedang duduk – duduk di teras rumah bpk. Hafid. Karna mayoritas warga dusun Bandealit berbahasa madura, bahasa mereka terkadang tercampur – campur, kadang bahasa Indonesia kadang madura. Untungnya saya yang memang sejak kecil memakai bahasa madura tidak kesulitan untuk memahami bahasa yang mereka ucapkan. Sedangakan pendamping saya yang berasal dari jawa barat cukup kesulitan untuk memahami bahasa mereka. Sampai larut malam berbincangan menemani kami, sekitar jam 22.00 WIB saya izin untuk kedalam rumah ingin berbaring karna merasa kelelahan. Ketika saya merebahkan badan di kasur, rasa – rasanya saya ingin terlelap tidur. Tak butuh waktu yang lama, akhirnya saya tertidur dan hari tiba – tiba sudah pagi.
Pagi – pagi sekali saya di bangunkan oleh teman saya untuk lanjut berkegiatan di hari ke 3 ini. Kali ini kami akan melakukan kegitan di tepian sungai yang tak jauh dari rumah bpk. Hafid, di hari kedua sebelumnya saat kami mengumpulkan data – data untuk bahan berita, saat ini kami akan membuat isi berita tersebut. Kami mulai packing barang bawaan seadanya saja untuk memasak di tepian sungai dan keperluan untuk melakukan pencatatan seperti ATK dan buku. Sekitar jam 6.30 WIB kami berangkat dari rumah bpk. Hafid dan mulai menyusuri sungai. Sekitar 10 – 15 menit kami menemukan tempat yang teduh dan cocok untuk kami berkegiatan hari ini. Karna kegiatan ini diawali dengan memasak terlebih dulu, saya mencari beberapa kayu kering di sekitaran sungai untuk membuat perapian. Teman – teman yang lain mulai mengeluarkan matras juga bahan makanan dan alat – alat memasak lainnya, sedangkan saya masih sibuk dengan membuat perapian. Sekitar jam 8.00 WIB masakan yang kami buat sudah matang semua, dengan menu kali ini adalah pecel telur dan mie ada beberapa sayuran yang kami sisipkan juga. Kami yang sedari tadi yang sangat kelaparan langsung menyantapnya dengan lahap. Setelah selasai makan dan membersihkan alat – alat makan, kami lanjutkan dengan menggarap berita soft news dan catatan perjalan di tepian sungai yang masih jernih. Ada anak kecil yang lewat untuk mencari ikan dengan senapan buatan ditengah – tengah kami saat mengerjakan berita, ada juga yang mengalami kecelakaan di jalan bebatuan yang suaranya terdengar sampai ke sungai tempat yang kami diami. Beberapa warga yang mencari rumput tiba – tiba melompat dan menyebrangi sungai untuk menolong korban kecelakaan. Saya yang khawatir akhirnya ikut berlarian dengan teman saya ingin menolong korban kecelakaan itu. Untung saja korban tidak mengalami luka yang serius, hanya kendaraan yang korban naiki mengalami beberapa kerusakan di bagian depan. Karna di rasa aman dan sudah ada yang menolong, kami memutuskan untuk ke sungai lagi dan mengerjakan tugas kami. Tak lama berselang tim konservasi yang kemarin ada di daerah Lodadi akhirnya menemui kami, meraka adalah mbk. Glugu dan mbk. Hembus. Mereka bertanya ke bpk. Hafid untuk menemui kami di sini. Akhirnya di sini kami mengobrol tentang apa saja yang mereka lakukan dan apa saja yang kami lakukan selama kegiatan 2 hari kemarin. Hujan gerimis datang di tengah – tengah obrolan kami, tanpa basa basi kami langsung mempacking barang – barang dan mencari tempat berteduh. Kami naik ke atas untuk melewati jalan kendaraan, jika kami melewati sungai harus melepas sepatu terlebih dahulu agar tidak basah. Sampai kami di perempatan warung ibu Sri, kami menumpang untuk berteduh dari hujan. Setelah kami hampir menyelesaikan tugas kami di warung ibu Sri, kami hampir lupa untuk membuat vidio liputan terakhir. Akhirnya saya yang sedari awal menjadi reporter harus mulai berbicara di depan kamera lagi. Seperti biasa harus membutuhkan take vidio berulang – ulang untuk mendapatkan hasil yang lumayan. Setelah semua selesai saya bersama tim jurnalisik kembali ke basecamp untuk menemui teman – teman konservasi yang sedari tadi sudah berada di sana sekitar jam 12.00 WIB. Kami mulai sharing pengalaman apa saja yang lakukan dan mereka juga, tak lupa dengan candaan seperti biasa ala anak SWAPENKA. Tak henti – henti mereka bercerita dan saya hanya sibuk mendengarkan tiba – tiba suasana seketika sunyi. Ternyata mereka lelah berbicara dan satu persatu dari kami mulai mencari posisi enak untuk sekedar memejamkan mata. Di tengah lelah kami tiba – tiba anggota keluarga bpk. Hafid menyuruh kami makan, diam – diam mereka membuatkan kami sarapan sebelum kami pulang balik lagi ke Universitas Jember. Permintaan yang tak akan kami tolak, ketika kami berada di kondisi yang kelaparan. Kami mulai menyantap masakan enak yang sudah dibuatkan oleh istri bpk. Hafid. Tak lama berselang setelah kami selesai makan, penjaga pos pertama menghampiri kami dengan memberi tahu bahwa truk yang kami tunggu sudah ada di perempatan. Saya bergegas untuk menghampiri supir truk tersebut, sampai di sana saya basa basi menanyakan sudah sampai dari jam berapa. Kemudian beliau menjawab, beliau sudah sampai sekitar setengah jam yang lalu. Saya kaget ternyata kami saling tunggu – tungguan sedari tadi. Saya mengabari teman – teman yang lain untuk segera packing dan izin pamit ke bpk. Hafid dan keluarga yang sudah mau kami repotkan untuk beberapa hari kemarin. Kami mulai berjalan menuju ke perempatan jalan dan menaikkan barang – barang kami. Tak lupa saya izin pamit ke ibu Sri yang sudah mau saya wawancarai sebelumnya dan beberapa warga yang ada di sana. Sekitar jam 15.45 WIB kami mulai meninggalkan dusun Bandealit dengan cuaca yang mendung dan gerimis, sangat berbeda ketika sebelumnya kami berangkat dengan cuaca yang sangat panas. Selama perjalanan pulang tak ada obrolan dan candaan, semuanya tertidur dengan harapan ketika bangun sudah sampai di universitas jember.
Kegiatan yang sangat menyenangkan saya pikir, selama pendidikan di dusun Bandealit saya mendapatkan banyak pelajaran, tidak hanya tentang jurnalistik dan tehnik reportasenya. Namun bagaimana warga dusun Bandealit menjalani hari – harinya sebagai warga yang tertinggal karna akses transportasi, listrik, dan pendidikan yang masih minim. Kehangatan dari bpk. Hafid dan sekeluarga ketika kami duduk di teras rumah dengan penerangan yang minim dan tanpa alat elektronik yang menyela obrolan kami, sangat berbanding terbalik dengan apa yang saya rasakan selama di perkotaan. Kegigihan salah satu warga pencari madu hutan untuk tetap mencari sesuap harapan dari tingginya sarang lebah yang berada di tengah – tengah hutan. Mak Sri ketika kami bertamu di hari pertama, beliau menyuguhkan makan khas dusun Bandealti dan mak Sri menyebutnya “kuenya orang alas” mak Sri jamin kuenya sangat berprotein karna tanpa bahan pengawet apapun. Meskipun berada jauh dari area perkotaan, warga dusun Bandealit tidak akan pernah merasa kekurangan. Segala kebutuhan mereka sudah tersedia di hutan dan kebun – kebun yang mereka rawat sendiri. Kehidupan yang bagi kami orang perkotaan melihatnya masih banyak sekali kekurangan, namun bagi warga dusun Bandealit sendiri itu sudah menjadi kecukupan.
Oleh Galan_XLI.24.33.384-SWP
Komentar
Posting Komentar