Catatan Rimbun tenang yang tak berkesudahan...

 Hari pertama

Pagi itu, suasana di lapangan FIB begitu meriah. Kami, tim dari berbagai divisi, berkumpul dengan semangat tinggi, siap menjalani perjalanan yang akan mengubah hidup—atau setidaknya memberikan cerita untuk dibanggakan. Setelah mengisi perut dengan makanan seadanya yang disediakan oleh panitia (yang, entah kenapa, selalu terasa lebih nikmat karena perut sudah keroncongan), truk yang kami tunggangi sudah siap membawa kami menuju Taman Nasional Meru Betiri. Butuh waktu sekitar tiga jam untuk sampai ke sana, jadi tak ada waktu untuk santai. Aku memilih duduk di depan, menemani Pak Sopir yang sepertinya sudah sangat ahli dalam mengarungi jalanan yang lebih banyak berliku daripada cerita hidupku.

Di Cawang, kami berhenti sejenak di rumah warga untuk berkumpul. Di sana, beberapa tim yang membawa kendaraan pribadi mulai muncul. Sambil menunggu, suasana di sekitar rumah warga itu sangat tenang, hampir terlalu tenang—sampai-sampai aku merasa seperti sedang berada di dunia yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk kota.

Setelah beberapa waktu berlalu, perjalanan dilanjutkan. Kami terbagi menjadi tiga tim: Tim Jurnalistik, Tim Konservasi, dan Tim Gunung Hutan. Tim Jurnalistik yang terdiri dari aku, Galan, dan Felis, dikawal oleh mbak Remang, yang meski tidak banyak bicara, selalu mampu membuat kami tertawa dengan gaya santainya. Tim Gunung Hutan, yang lebih memilih untuk ‘menyusuri rimba’ daripada menikmati perjalanan dengan santai, terdiri dari Trabas dan Akar, yang tentunya didampingi oleh Mas Nyala, Mas Tatag, dan Mas Sakaw. Mereka bertugas menyeberangi hutan hingga tembus ke pantai—sebuah perjalanan yang, menurut mereka, lebih menantang daripada menunggu giliranku untuk makan siang. Tim Konservasi yang terdiri dari Esem, Agel, dan Jipat, bersama Mas Jumar, Mbak Beki, Mbak Hembus, dan Mbak Glugu, akan mengeksplorasi kondisi satwa dan lingkungan yang tak kalah serunya untuk diceritakan.

Tim Jurnalistik mendapat tugas untuk menulis feature tentang kehidupan di Lodadi, yang kabarnya hanya dihuni tujuh kepala keluarga. Tentu saja, kami sudah membayangkan betapa ‘asyiknya’ kehidupan di desa yang ‘tidak biasa’ ini. Galan, Felis, dan aku langsung turun tangan untuk mencari data dari warga yang sudah menunggu. Beberapa di antaranya adalah pencari madu hutan yang sudah menjadi ‘ahli’ dalam memanjat pohon tinggi demi mendapatkan manisnya madu.

Mak Sri bukan cuma warga tertua di Lodadi. Ia adalah penjaga gerbang tak resmi—bukan dari portal besi, tapi dari pintu kayu berderit yang selalu terbuka untuk siapa saja yang lelah berjalan di rimba. Rumahnya berdiri sederhana di tengah kampung kecil yang cuma punya tujuh kepala keluarga—jumlah yang lebih sedikit dari jumlah anggota panitia acara fakultasku. Tapi di sanalah, di rumah papan satu lantai dengan tungku yang hangat dan teko yang tak pernah benar-benar kosong, Mak Sri menampung segala jenis lelah: dari yang capek menembus semak, sampai yang cuma capek jadi mahasiswa.

“Anak-anak Mapala itu sudah kayak cucu sendiri,” katanya sambil menata gelas kopi di atas baki plastik, “meski saya nggak hafal nama-namanya. Soalnya mereka suka ganti-ganti nama, katanya nama hutan.” Ia tertawa. Tawa yang tulus dan renyah, seperti krupuk udang yang baru diangkat dari minyak panas. “Ada yang namanya Trabas, ada yang Akar, ada juga yang nyebut dirinya Nyala. Lah itu maksudnya apa saya juga ndak ngerti.”

Bagi Mak Sri, rumah bukan sekadar tempat tidur. Tapi juga tempat bertukar cerita, tempat menggantung celana lapangan, dan kadang tempat menyimpan ransel yang baunya bisa bikin kucing kabur. Anak-anak Mapala datang dan pergi, seperti musim di hutan. Kadang hujan, kadang kering. Tapi Mak Sri tetap tinggal. Selalu ada, seperti tanda koma dalam cerita yang belum selesai.

Ia hidup sendiri di rumah itu, meski anak-anaknya masih sering disebut-sebut. Dua anak laki-lakinya merantau, katanya, "Ngilang kayak kabut pagi. Kadang muncul, kadang tidak." Yang satu perempuan tinggal di belakang rumah, sudah berkeluarga dan menikah dengan pencari madu hutan—pekerjaan yang lebih berat dari cinta jarak jauh. Suaminya memanjat pohon seperti Spider-Man, tapi tanpa jaring dan tanpa kamera. Hanya dengan bambu, nekat, dan doa dari istrinya.

“Suami anak saya itu pemanjat pohon sejati,” kata Mak Sri. “Naiknya siang, turunnya kadang malam. Kalo dapet madu ya syukur. Kalo dapet luka ya... saya yang ngurut.” Ia tertawa kecil, lalu melanjutkan, “Namanya juga hidup dari hutan. Kadang manis, kadang pait. Tapi lebih sering pait, kayak kopi saya ini.”

Di rumahnya, tak pernah ada yang diminta bayaran. “Saya ini cuma seneng rumah rame,” katanya, ketika aku tanya kenapa tak pernah meminta uang pada anak-anak Mapala. “Daripada saya ngobrol sama dinding.” Dan memang benar. Rumah Mak Sri adalah semacam ruang tamu raksasa untuk pejalan. Tempat di mana cerita diseduh bersamaan dengan air panas, dan tawa dibagikan seperti biskuit khong guan di lebaran.

Setelah selesai menulis dan mengumpulkan wawancara, aku mulai merenung. Kenapa semua terasa begitu ironis di sini? Madu yang mereka perjuangkan dengan begitu keras, ternyata hanyalah simbol dari ketahanan hidup mereka yang sederhana. Tapi seperti kopi tanpa gula, realitanya jauh lebih pahit daripada yang kami kira.

Perjalanan Tim Gunung Hutan—yang seharusnya ditempuh dengan keberanian (dan mungkin sedikit kenekatan)—dimulai. Trabas dan Akar, dengan semangat muda mereka, siap menyusuri hutan dan menjelajahi alam liar. "Siap untuk menguji nyali di hutan ini?" tanya Mas Nyala dengan serius, meskipun ekspresinya lebih mengarah ke orang yang justru mencari keseruan di tengah ancaman bahaya. Tim Gunung Hutan memang terbilang beda. Mereka bukan hanya ingin mencapai tujuan, tapi juga merasakan ketegangan setiap langkah mereka di hutan lebat itu. Sepertinya mereka benar-benar menikmati tantangan, apalagi dengan membawa banyak peralatan yang mereka anggap ‘penting’, meskipun beberapa dari mereka malah lebih sibuk mencari cara untuk tidak kehabisan baterai ponsel daripada memikirkan keamanan di hutan.

Sementara itu, Tim Konservasi mengamati satwa dan lingkungan di sekitar hutan, berusaha memahami ekosistem yang ada. Tapi, di antara semua tim, Tim Jurnalistik adalah yang paling santai (dan mungkin paling makan banyak). Tugas kami adalah mendokumentasikan kehidupan masyarakat, dan lebih spesifik lagi, kehidupan yang berkaitan dengan madu hutan. Kami tertarik pada bagaimana mereka bertahan hidup dengan cara yang sederhana, namun penuh perjuangan.

Hari pertama itu, meskipun hanya melalui perjalanan singkat, membuka mata kami tentang kenyataan yang ada di balik manisnya kehidupan yang tampak di permukaan. Lodadi bukan hanya tentang madu hutan, tetapi tentang ketahanan hidup, tentang bagaimana manusia bisa bertahan dengan cara yang kadang jauh lebih keras dari yang kita bayangkan. Madu hutan mungkin manis, tapi kisah di baliknya adalah pahitnya kenyataan yang tak bisa dihindari.

  Matahari mulai merebahkan diri di ufuk timur, membawa kehangatan yang perlahan merayap di tubuh kami. Tim jurnalistik kembali ke camp, setelah seharian menyelami kesibukan mencari data yang tersebar di desa Lodadi. Kamp yang kami bangun sebelum memasuki desa itu kini menunggu, seperti rumah yang sabar menanti kedatangan penghuni. Kamp jurnalistik, yang berdekatan dengan kamp tim Konservasi, cukup ramai, meski sedikit lebih kecil. Sementara tim Gunung Hutan, yang selalu merasa sedikit jauh dari kami, tampaknya lebih sepi. Ah, perbedaan itu justru membuat segalanya lebih hidup, lebih terasa perbedaannya.

Kami tiba lebih dulu di kamp daripada tim Konservasi, namun tak ada yang benar-benar memisahkan kami. Bahkan dalam kesibukan menulis, kami tetap bersenandung ringan di antara kalimat-kalimat yang kami susun. Menulis dengan ketegasan, tapi tetap membiarkan tawa melayang di udara, karena memang, ada sesuatu yang manis dalam kebersamaan.

Beberapa menit kemudian, tim Konservasi akhirnya datang juga, dengan wajah sedikit kusut dan langkah terburu-buru. Ada sesuatu yang bisa kami bagikan, tak hanya data, tapi juga konsumsi. Kami—tim jurnalistik—membantu menyiapkan makan malam untuk mereka. Hanya menanak nasi menggunakan nesting (alat masak tentara) yang tak sempurna, tapi cukup untuk mengenyangkan perut setelah lelah bergerilya di hutan. Tim Konservasi pun dengan sigap ikut membantu menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Menu pertama malam itu adalah Soto ala Konservasi, yang tentu saja campur tangan kami dalam soal makanan itu membuat kami kompak, tanpa basa-basi.

Perut yang sudah terisi, malam pun semakin dekat. Mas Sakaw, yang sepertinya selalu membawa angin segar dari tim Gunung Hutan, datang mendekat. Kamp tim Gunung Hutan memang lebih sunyi, seolah alam mengundang mereka untuk lebih terisolasi. Tapi kali ini, Mas Sakaw membawa cerita dan rencana untuk membuat perapian di depan kamp kami. Sebuah ide yang seolah menciptakan garis batas baru antara tim kami dan mereka—namun dengan cara yang sangat bersahabat.

Mas Jumar, yang meski dari tim Konservasi, tak kalah jago urusan gunung dan hutan, turut hadir. “Ini untuk menjaga kehangatan malam, bukan sekadar perapian,” katanya sambil tersenyum. Perapian itu tak hanya sekadar api. Itu adalah pertemuan antara dua dunia yang kadang terlihat jauh, tapi sesungguhnya saling membutuhkan. Kami berkumpul di sekitar api yang mulai menyala, kayu-kayu terkumpul dengan cepat. Malam tak sabar menunggu. Semua siap, tapi aku hanya bisa duduk, menyaksikan mereka—Mas Sakaw dan Mas Jumar—bermain api dengan keahlian mereka yang entah berasal dari mana.

Aku duduk di depan perapian, segelas kopi panas di tangan kiri, buku di kanan, dan imajinasi yang mulai meluncur liar ke sana kemari. Dalam keheningan malam yang hanya dipenuhi gemerisik api, aku menulis. Karena aku manusia, itu saja pembelaanku. Di antara gelak tawa dan canda mereka yang terus mengalir, aku merasa nyaman. Tak ada yang lebih asyik daripada duduk di depan perapian, kopi di tangan, dan buku di samping—itu kombinasi yang sempurna, bukan?

Malam ini, kami tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga berbagi api, berbagi kehangatan yang lebih dari sekadar api yang menyala. Itu adalah kebersamaan yang membakar dalam hati. Dan siapa yang butuh alasan lebih untuk merasa bahagia?

 Kami tertawa, suara kami pecah mengalahkan dinginnya malam, seiring kayu yang perlahan dilahap api. Di tengah tawa itu, Mas Nyala tiba-tiba muncul, memegang mangkok pribadi yang lucu, seperti mangkok kecil yang lebih cocok untuk anak-anak ketimbang seorang lelaki berotot. “Ini menu anak GH malam ini—Rempelo ati dan kuah kare... hmmm, enaknya! Eh, apa menu kalian malam ini?” tanyanya, dengan muka ngejek yang tak bisa disembunyikan, sambil menyodorkan mangkok itu ke wajah kami, seolah menawarkan kebahagiaan yang tak ternilai.

Kami yang sedang menikmati tawa, membalas dengan santai, “Kami sudah tadi dengan soto ala anak Konservasi dan Jurnalistik." Sejenak hening, lalu aku tambah, "Mana yang lain, Mas?” Dengan rasa kasihan yang tak bisa disembunyikan, aku menatapnya. Mas Nyala yang tampak seperti satu-satunya orang di dunia yang bisa tertawa sendirian.

“Tau mereka lagi briefing untuk perjalanan besok, kayaknya. Kan aku ini hanya wisatawan di sini,” jawabnya, sambil tersenyum mengejek, seolah-olah sudah lebih dari sekadar senior—seperti kakek yang bisa dengan santai menceritakan masa muda sambil mengunyah rempelo ati.

Kami yang lain hanya bisa tersenyum, tak ingin berdebat soal siapa yang lebih tua, lebih berpengalaman, atau siapa yang lebih suka menganggap diri mereka ‘pendatang’ di dunia yang lebih besar dari perapian kecil ini. “Yah, Mas Nyala memang selalu bisa menganggap diri sebagai wisatawan, meskipun dia sudah lama berkelana di dunia ini,” aku pikir dalam hati, sembari menyeruput kopi yang rasanya sudah tidak sama sejak ia datang.

Tapi di balik kekonyolan itu, ada kehangatan yang datang dengan tiap obrolan. Walau Mas Nyala sering menertawakan kami, kami tahu dia bukan sekadar wisatawan di tengah api ini. Dia sudah menjadi bagian dari cerita yang membakar dalam hati—meskipun lawakannya selalu garing, dia tetap menjadi bumbu yang tak terpisahkan dari campuran rasa di malam ini.

Tapi setelah kedatangan Mas Nyala, tongkrongan ini terasa jauh lebih hangat dibandingkan perapian yang ada di depan kami. Entah bagaimana dia melangkah, seolah membawa aura keceriaan yang tak bisa ditandingi oleh apapun, bahkan oleh api yang berkelip-kelip itu. Mas Nyala adalah yang paling vokal di antara kami, dan yang paling asik, tanpa terkecuali. Dia bisa membuat siapa pun merasa seakan kita semua sudah saling mengenal lama, meskipun kadang lawakannya lebih mirip cerita konyol yang keluar dari mulut seseorang yang baru saja menemukan kehidupan. Tapi, itulah yang membuatnya istimewa.

Dia tahu segalanya tentang anak-anak di sini. Dari Mas Jumar, yang selalu bercanda bisa terkekeh kalau sudah tersenggol sedikit saja, sampai Mas Sakaw yang keras kepala dan sedikit perseteruan dengan timnya, tapi tetap saja kami menganggapnya bagian dari cerita. Lalu ada aku, yang hanya bisa nyengir mendengar cerita-cerita itu, Mbak Hembus yang selalu berusaha menjaga jarak tapi entah kenapa mudah tersenyum, Mbak Beki yang seangkatan dengan Mas Nyala dan selalu ikut dalam setiap tawa yang meledak, Mbak Remang yang terkadang terlihat misterius, Mas Tatag yang selalu siap dengan komentar yang sedikit satir, dan semua orang yang ada di sini—kami semua punya bagian dalam cerita Mas Nyala.

Mas Nyala tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menceritakan kekonyolan-kekonyolan kami. Mulai dari kejadian di gunung, salah paham di tengah hutan, sampai kebodohan-kebodohan kecil yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah berada dalam situasi yang sama. Dengan celotehan tanpa henti, Mas Nyala menceritakan semuanya. Dari mulutnya keluar segala bentuk cerita, dan tawa pun pecah. Rasanya, malam ini, kami semua seperti satu tubuh yang tertawa bersama, melepaskan segala penat yang ada, membiarkan kegilaan dunia luar sejenak terhenti.

Dan begitu perapian itu menyala lebih terang, seolah tawa kami ikut melompat-lompat, sehangat kopi yang telah lama menghilang dalam tangan. Dunia malam ini terasa tak lagi dingin, karena hangatnya cerita Mas Nyala yang tak pernah habis, dan karena kami, yang berada di sini—saling melengkapi dalam cara yang paling konyol sekaligus indah.

Hari Kedua

 Jam 6 felis membangunkan teman-teman sevagai sie acara dalam divisi jurnalistik. Aku bergegas membersihkan diri di Sungai dekat camp, dengan sedikit jiwa yng masih belum berbenah. Dinginnya pagi itu menusuk tulang-tulang mungilku. Mengisi perut sebagai bekal tenaga yang akan kami gunakan untuk kegiatan selanjutnya, menunggu teman-teman membersihkan diri aku meluangkan waktu dengan membuat kopi. Sekitar pukul 7 kita tim jurnalistik bergerak lagi menuju desa Cawang.

 Tepat di rumah pak khafid untuk melakukan kegiatan reportase kepada warga tentang isu lingkungan yang berkembang disana. Perjalanan dari lodadi menghabiskan waktu kira-kira 2 jam-an biasanya kita tempuh perjalanan dengan waktu 30 menit dikarenakan ada breafing untuk mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan saat melakukan liputan. Setelah pembahasan dan breafing selesai kita lanjutkan perjalanan hingga sampai di Lokasi jam 10 an sambil lalu beristirahat kami sedikit berbincang dengan tuan rumah (bapak khafid) mengenai isu lingkungan yang akan kami bahas. Informasi dan isu telah kami dapatkan kami bergegas bergerak sekitar pukul 10.30 mengelilingi desa cawing tersebut dan menyapa Masyarakat disana dengan materi yang kita dapatkan yaitu “Pendekatan Masyarakat” karena mengakrabkan diri kepada Masyarakat menjadi salah satu kunci keberhasilan jurnalistik, bukan hanya itu terkadang mahasiswa enggan turun langsung menyapa Masyarakat karena sifat Masyarakat yang beraneka ragam macamnya, tapi bagi kami menyapa Masyarakat adalah ilmu yang tak kita pelajari di kelas.

 Kami berjalan menyusuri desa cawang mencari kriteria warga yang pas untuk diwawancarai. Kegiatan liputan dan wawancara berlangsung hingga pukul 4 sore lalu kami Kembali ke rumah bpk khafid yang kami sepekati untuk menjadi kamp jurnalistik sementara.

 Setelah semua rampung, dari membersihkan diri dan memasak. Kami Kembali mengakrabkan diri kepada tetangga-tetangga yang berada sekitar rumah pak khafid, kami berempat berkumpul di depan rumah pak khafid sambil beristirahat dan menyelesaikan tugas menulis kami tiba-tiba perlahan tetangga satu persatu mendatangi rumah pak khafid hanya sekedar bercengkrama. Dan malam itu setelah hujan yang dingin kami di hangatkan oleh candaan khas tetangga disana, dengan senang hati kami menyambutnya dengan tawa yang lepas.

 Hari ketiga

 Kali ini bukan alarm, bukan juga ayam kampung yang kelebihan semangat. Yang membangunkanku justru Mbak Remang, sang Koordinator tim semangat yang sisa kantuknya masih berceceran gara-gara semalam kebanyakan ngobrol sama warga. Dengan mata sayu dan suara yang mirip orang habis kalah debat, ia menyuruhku bangun. Dan karena aku anak baik yang jarang menolak perempuan (apalagi yang bangun duluan), aku menurut saja.

Dengan wajah setengah sadar dan rambut kusut seperti akar pohon jati, aku bangkit. Aku menuju sungai dengan langkah malas, lalu mencelupkan wajahku ke air yang dinginnya seperti kutukan dari Pegunungan Alpen. Rasanya seperti dicuci pakai air galon yang kelamaan masuk kulkas. Tapi ya sudahlah, ini hari terakhir, harus tampil segar, meski jiwaku belum siap untuk kembali ke dunia nyata bernama kampus.

Hari ini kami dijadwalkan menyunting laporan. Lokasinya? Di pinggir sungai, agak jauh dari pemukiman warga. Katanya biar dapat “ketenangan batin”—padahal aku curiga ini cuma alasan biar bisa piknik sekalian. Kami menggelar tikar, mengatur posisi duduk, mengeluarkan alat tempur: buku catatan, kertas lecek, pulpen dengan ujung digigitin, dan tentu saja, semangat yang setengah matang.

Sambil menyalakan api buat masak mi dan kopi sachet, kami menulis. Ya, menulis dengan tangan—bukan pakai laptop atau tablet, tapi benar-benar tulisan tangan. Huruf sambung ala zaman SMP yang bentuknya sudah tidak patuh pada EYD, apalagi estetika. Ada yang menulis di pangkuan, ada yang menjadikan punggung temannya sebagai alas, dan ada juga yang menulis sambil tiduran, karena katanya inspirasi datang dari posisi rebahan.

Tulisan-tulisan kami lebih mirip surat cinta daripada laporan. Bukan karena romantis, tapi karena sering ada coretan, panah-panah revisi, dan kata-kata yang dihapus pakai jari atau air ludah. Tapi inilah jurnalisme sejati, pikirku, jurnalisme yang menyeberangi sungai, bukan sekadar jaringan.

Kami sesekali berhenti menulis karena tertawa. Entah karena bercandaan receh, atau karena nasi kami gosong. Tapi seperti biasa, yang gosong kami tertawakan, yang salah tulis kami maklumi. Karena yang penting bukan hasilnya, tapi proses yang penuh cerita.

Sekitar jam tiga sore, truk kampus datang. Suaranya membelah hutan, seperti bunyi lonceng akhir acara di festival rakyat. Kami pun berkemas: merapikan alat tulis, membereskan peralatan masak, dan menyimpan tawa-tawa kami dalam ingatan.

Kami pulang dengan tangan yang pegal karena menulis, perut yang kenyang karena masakan sendiri, dan hati yang hangat karena obrolan dengan warga yang tak pernah diajarkan di ruang kuliah.

Di atas truk, kami tak sempat merasa lega. Langit sudah lebih dulu merasa haru. Gerimis turun perlahan seperti rindu yang tertahan-tahan, lalu berubah jadi hujan deras yang datang tanpa permisi. Sebagian dari kami buru-buru menutupi tas dengan jas hujan, sebagian lainnya menutupi hati yang sendu dengan lagu-lagu dari mulut sendiri.

Truk tua itu tetap melaju, meski rodanya seperti ragu, antara menembus hujan atau balik kanan ke desa. Tapi sopir kami, seperti biasa, lebih percaya pada nasib daripada rem. Jadi ya, kami diguncang, digoyang, dan dipaksa menikmati jalan berlumpur yang mirip jalur hidup mahasiswa akhir semester.

Dan aku, entah karena nasib baik atau terlalu sering disuruh geser-geser, akhirnya duduk di bangku depan, sebelah sopir. Posisi ini bukan main, angin langsung dari jendela, cipratan hujan kena separuh badan, dan bonus: bisa dengar curhatan sopir dari A sampai Z, dari harga solar sampai mantan yang nikah sama temannya sendiri.

Sopir kami, Pak Jaya namanya, tipe bapak-bapak yang kalau bercerita suka ngelantur, tapi kalau bawa truk, tangannya mantap, meski kadang remnya lebih lambat dari niat bangun subuh. “Hujan begini enaknya tidur, ya, Mas?” katanya. Aku cuma senyum, sambil menahan gigil karena setengah bajuku udah nyerap air kayak spons cuci piring.

Sepanjang jalan, jendela depan seperti layar bioskop: sawah, kabut, motor yang nyalip dari kanan tanpa lampu, dan anak-anak sekolah yang nekat pulang pakai plastik bekas gula sebagai jas hujan. Sementara di belakang, teman-temanku entah tertidur atau tertawa suara mereka sesekali sampai ke depan seperti gema masa lalu.

“Mas, kamu kuliah jurusan apa?” tanya sopir lagi, setelah cerita soal ban serep dan polisi tidur yang terlalu tinggi. “Sastra,” jawabku. “Wah... cocok. Soalnya hidup juga butuh ditafsirkan.”

Aku kaget. Lalu diam. Lalu nyatet diam-diam di kepala. Di antara deru truk, guyuran hujan, dan lagu-lagu campur aduk, ada kalimat yang lebih dalam dari sumur tua di tengah hutan.

Begitulah perjalananku pulang: dengan hujan sebagai pengiring, truk tua sebagai kapal, dan pak Jaya sebagai pemandu spiritual yang tak tahu kalau kata-katanya akan jadi catatan.

Dan ketika gerbang kampus mulai terlihat, hujan masih turun pelan. Tapi yang berat justru langkah kami turun dari truk. Rasanya seperti melepaskan mimpi yang sebentar lagi harus disimpan. Kami pulang, ya... tapi sebagian dari kami tertinggal di jalan bersama tawa, lumpur, dan semua yang tak bisa ditulis di laporan kegiatan.

Oleh Tapir_ XL.23.32.379 - SWP

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Perjalanan: Pendakian Gunung Lawu 3265 MDPL

MENAKLUKKAN PUNCAK: CATATAN PERJALANAN DI KETINGGIAN

Pelarian ke Puncak Sunyi